.

Ia yang Tak Boleh Terlupakan

Sri Susanti, Mei 2005

eramuslim - Mata lelaki itu berkaca-kaca. Ia diam seribu bahasa. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin terucapkan. Beragam rasa pun sedang berkecamuk di dadanya. Bahagia, senang dan haru, semua bercampur menjadi satu. Tapi entahlah, rangkaian aksara itu tak kuasa menggetarkan pita suaranya. Lalu tak lama, dua sungai kecil mulai menganak di pipinya. Mungkin hanya itulah wujud rangkaian kata yang ada dalam pikirannya. Semua hanya tersampaikan melalui dua sungai kecil itu.

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, ia juga dihinggapi perasaan yang sama. Ketika itu, si sulunglah yang punya hajatan. Ia pun membeli satu setelan jas yang terbaik dan dikenakan khusus untuk acara itu. Ia tak memakai barang-barang seperti itu dalam keseharian karena ia memang tak pernah punya. Tak pernah. Baginya, kebahagiaan bukan terletak pada simbol-simbol duniawi semata, tapi ketika anak istrinya bahagia. Ia selalu bekerja keras untuk satu alasan ini. Dan pada satu hari yang akan selalu dikenangnya itu, semua lelah dan penat yang dirasakannya menguap begitu saja ketika menyaksikan si sulung tersenyum manis berbalutkan toga kebesaran almamaternya.

Hari ini, ia kembali memakai setelan jas itu, yang tak pernah dipakai lagi sejak satu setengah tahun lalu. Namun sekarang, si bungsulah yang punya hajatan. Bahagia? Pasti. Jika ada kata-kata lain yang pantas untuk mengungkapkan perasaannya, maka kata-kata itupun akan ditambahkannya untuk menyempurnakan rasa bahagia ini. Betapa tidak, kedua putrinya sanggup menjadi sarjana jebolan kampus jajaran reputable university di tanah air. Ia dan istrinya tidak mengharapkan hasil yang seperti ini. Mereka sebenarnya sudah cukup puas bila sang buah hati menuntut ilmu di kampung halaman saja, tapi ternyata putri-putrinya itu punya impian yang lebih tinggi. Berkat izin Allah, mereka berhasil. Maka lelaki itu menilai, apa yang diperolehnya sekarang ini adalah suatu pencapaian yang besar. Dan ia berkali-kali mengatakan kepada kedua putrinya supaya selalu merasa bersyukur pada Allah atas semua anugerah-Nya dan rasa bahagia yang tak terkira ini.

"Apakah ada juru foto yang akan memotret adikmu sewaktu menerima ijazahnya?" tiba-tiba ia bertanya pada si sulung yang duduk di sampingnya.

"Insya Allah ada, Pa. Biasanya itu sudah ditawarkan dalam paket uang pembayaran wisuda," jawab si sulung.

"Mungkin ada baiknya Papa memotretnya dari layar itu. Untuk jaga-jaga. Siapa tahu adikmu lupa memesan," lanjutnya. Ia pun mulai mengambil posisi yang dianggap strategis untuk memotret putri bungsunya di layar infokus itu.

Ia memang selalu menjadi ayah yang baik. Selalu memastikan putri-putrinya tidak kekurangan apapun. Selalu memberikan yang terbaik yang mampu dilakukannya. Dan tak akan pernah dibiarkannya mereka bersusah hati.

Ketika kedua putrinya masih kanak-kanak, lelaki itu pernah mengajak mereka jalan-jalan sore ke tepi pantai. Di sana, mereka melihat rumah yang sangat indah. Lantas si sulung pun berkata, "Rumah itu bagus sekali, Papa".

"Iya, bagus sekali. Apa kalian akan senang punya rumah seperti itu?," kata lelaki itu.

"Senang sekali. Di halamannya nanti akan ditanami banyak bunga," si bungsu menambahkan.

"Baiklah. Kita akan punya rumah seperti itu, Insya Allah," lelaki itu mengukir janji.

Saat ini, rumah yang diinginkan buah hatinya sudah berdiri megah. Lelaki itu sudah berusaha keras untuk semua ini. Bersama sang istri yang sangat cakap mengatur keuangan, penghasilannya yang pas-pasan akhirnya mampu mewujudkan itu. Beberapa bagian rumah tersebut malah lahir dari gerakan jemarinya. Dan inilah yang membuat putri-putrinya bangga.

Sebenarnya, dulu ia bisa saja menganggap janji itu tidak pernah ada. Toh, itu cuma janji ke bocah kecil yang belum mengerti apapun dan perhatiannya bisa dialihkan dengan mudah ke mainan baru. Tapi baginya, janji adalah sesuatu yang wajib dipenuhi dan diusahakan selama Allah masih memberi jalan ke arah itu. Maka pantaslah jika di mata putri-putrinya, ia adalah sosok lelaki terbaik yang pernah mereka temui.

***

Pada suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah SAW, kemudian ia bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?" Beliau menjawab, "Ibumu." Tanyanya lagi, "Kemudian siapa?". Beliau menjawab, "Ibumu". Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa?". Beliau menjawab, "Ibumu". Kemudian ia pun bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ayahmu."

Dalam hadist muttafaqun ‘alaihi yang diriwayatkan dari Abu Huraihah tersebut, ibu mendapat prioritas utama untuk memperoleh perlakuan baik dari anak-anaknya. Ibu, adalah seseorang yang memberikan pengorbanan paling besar untuk mulainya kehidupan seorang anak manusia. Ibu mengandung anaknya dalam keadaan yang serba lemah, kemudian menyapihnya setelah dua tahun, begitu Allah berfirman. Karenanya sangat benar, surga itu di bawah telapak kaki ibu.

Ayah, mendapat prioritas keempat setelah peringkat pertama, kedua, dan ketiga ditempati oleh ibu. Namun, ini tidaklah berarti bahwa berbakti kepada ayah merupakan hal yang pantas dikesampingkan dan boleh dilaksanakan secukupnya saja. Birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua, adalah konsep yang ditawarkan oleh Islam untuk menghargai peran kedua orang tua. Karena hadirnya seorang anak manusia bermula dari ibu dan ayahnya. Karena baik buruknya tingkah laku seorang anak tergantung pada ibu dan ayahnya. Dan karena ridha Allah pada seseorang terletak pada ridha ibu dan ayahnya.

Maka Allah memerintahkan ummat manusia, "...dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra [17]:23)

Kemudian pada salah satu kalam-Nya yang lain, "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)..." (QS. Al Ahqaaf [46]:15)

Dan doa yang diucapkan seorang anak tidak hanya untuk ibunya, tapi juga bagi sang ayah, "Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil."

Jika ibu adalah simbol ketentraman, maka ayah adalah simbol keamanan. Sebab di hadapan Allah, ia adalah orang yang akan mempertanggungjawabkan keluarganya. Dan sebab ia harus menjauhkan mereka dari siksaan api neraka. Ini tentu saja bukanlah tugas yang mudah.

Memang, pengorbanan ibu jauh lebih besar. Tapi pengorbanan ayah bukanlah hal yang pantas disepelekan. Kisah-kisah tentang ayah yang tidak bertanggung jawab lantas tidak bisa dijadikan parameter umum tentangnya besarnya cinta ayah kepada anak-anaknya. Al Quran mempunyai berbagai cerita tentang ayah-ayah yang hebat dan sangat sayang pada buah hatinya. Ada Luqman Al Hakim, yang wasiat-wasiatnya diabadikan dalam salah satu surat. Ada Ibrahim, bapaknya para nabi, yang berdoa agar keturunannya kelak menjadi orang-orang yang beriman. Serta ada pula Nuh dan Luth, yang harus sendirian mempertahankan keimanan anak-anaknya karena ibu mereka telah ingkar pada Allah.

Rasulullah, juga seorang figur ayah teladan. Pada saat lingkungan sekitarnya tidak menghargai anak perempuan, Allah justru mentakdirkan hanya anak perempuannya yang hidup sampai dewasa. Dan ia sangat memuliakan mereka, terlebih si bungsu Az Zahra. Berkata Aisyah, "Tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih mirip pembicaraannya dengan Rasulullah dibanding Fathimah. Jika ia masuk ke tempat Rasullullah, Rasulullah memegang tangannya, menciumnya dan mendudukkannya di tempat beliau. Jika Rasulullah masuk ke tempatnya, ia bangun lalu mencium Rasulullah, memegang tangan beliau dan mendudukkan beliau di tempatnya".

Putri Syadiyah binti Sultan Abdul Hamid II, pun merasakan kedekatan yang teramat indah dengan sang ayah dalam masa pembuangan di Salonika pada detik-detik keruntuhan Daulah Utsmaniyah di Turki. Dalam "Manis dan Pahitnya Hidupku", autobiografinya, sang putri menulis, "Aku ingin menemani ayah dan aku tidak menginginkan sesuatu kecuali tinggal di sampingnya sampai akhir hayatku. Karena khawatir ayahku diliputi kesedihan, maka aku mengusahakan untuk menghiburnya, dan ayahku berkata, "Wahai putriku, engkau jangan memikirkan tentang kondisi ayah yang engkau kira terus-menerus merasa sedih. Sebetulnya ayah tidak apa-apa! Siapakah yang akan kekal di dunia ini?'. Maka pada saat itu aku tahu, betapa ayahku seorang yang luar biasa kokoh pendiriannya dan sabar".

Dan di mata Gemala Hatta, sang ayah adalah tokoh idola. Ia adalah kepala keluarga yang mengayomi dengan bijak. Ayahnya mendidik dengan memberikan contoh nyata, bukan dengan banyak berkata-kata. Hatta memang sangat perhatian, sampai kepada hal-hal yang kecil sekalipun. Kesibukannya sebagai pembesar negeri tidak membuatnya lupa akan tugasnya sebagai seorang ayah. Menurutnya, tanggung jawab terhadap anak bukanlah terbatas pada pemenuhan materi semata, tapi juga pada kondisi mental dan spiritual mereka.

Subhanallah...

Ayah, memang tidak akan mampu memberikan pengorbanan seperti yang diberikan ibu. Dan ia tak akan sanggup menyaingi semua yang dilakukan ibu. Tapi ia memberikan cintanya dengan caranya sendiri yang sesuai dengan kodratnya sebagai seorang laki-laki dan kapasitasnya sebagai seorang ayah. Sekali lagi, ini tidak boleh dianggap enteng dan dipandang sebelah mata karena Islam sesungguhnya telah mengajarkan birrul walidain, memuliakan ibu tanpa sedikitpun melupakan ayah.

Ya Rabbi, betapa indahnya birrul walidain. Dan benarlah Islam ini rahmatan lil 'alamin...

***

For my dearest Papa, yang jasanya tak akan mampu kubayar lunas. Jazakallahu bi ahsanal jaza'
Back To Top