Thursday, January 26, 2006

Apa Yang Dibutuhkan Anak Dari Orang Tua?

Salah satu ketakutan anak-anak saat ini dari orang tua mereka adalah menjadikan urusan anak sebagi pekerjaan temporer. Saat ini semakin jarang orang tua yang mau menghabiskan wakunya bersama-sama keluarga sebagai akibat kesibukan pekerjaan, misalnya.

Akibatnya kita seringkali terfokus pada perilaku anak-anak dan tidak pada perilaku yang kita miliki.Mengapa tidak melihat perilaku anda dari persfektif anak-anak? Dalam sebuah survei yang dilakukan terhadap 100.000anak-anak, apa yang mereka paling inginkan dari orang tua mereka?

Berikut 10 jawaban yang dapat dijadikan evaluasi bagi para orang tua:

- Anak-anak ingin orang tua mereka tidak bertengkar didepan mereka

Anak-anak cenderung melakukan apa yang orang tuanya lakukan, tidak pada apa yang mereka katakan. Bagaimana anda mengatasi perbedaan ini? Apakah anda tidak setuju anak melihat pertengkaran anda menyerang oranglain atau mempertahankan diri sendiri? Hati-hati apabila orang tua melakukannya, kemudian anak-anak akan belajar bagaimana mengatur marah dan menyelesaikan konflik dengan cara yang orang tua contohkan.

- Anak-anak ingin orang tua memperlakukan setiap anggota keluarga sama

Memperlakukan anak sama bukan berarti memperlakukan mereka sama rata. Setiap anak memiliki keunikan dan masing-masing membutuhkan kasih sayang dan pengertian yang sama. Evaluasi hubungan orang tua dengan setiap anak.

- Orang tua yang jujur
Pernah anda para orang tua mengatakan sesuatu yang tidak jujur pada anak-anak? Orang tua mungkin tidak menyadari apa yang ia tengah contohkan pada anak-anaknya. Apakah orang tua mengatakan apa yang ia maksud adalah apa yang ia katakan?

- Orang tua yang toleran pada orang lain
Ketika orang tua toleran pada orang lain, anak-anak akan belajar sabar dengan siapa aja yang berbeda dengan mereka. Dalam cara apa orang memberi contoh toleransi pada anak?

- Orang tua yang ramah pada teman-teman mereka ketika berkunjung ke rumah
Jika pengelompokan terjadi di rumah, kemudian orang tua akan tahu dimana anak-anak berada. Pererat kebijakan pintu terbuka dan mengenal teman-teman mereka.

- Orang tua yang membangun semangat bersama dengan anak-anak
Ketika anak-anak masuk dalam usia remaja, orang tua yang memperat semangat bersama akan memiliki pengaruh lebih besar pada anak mereka.

- Orang tua yang mau menjawab pertanyaan anak
Pernahkah orang tua merasa bersalah ketika mengatakan, "sekarang ayah/ibu sibuk, kita bicaranya nanti saja." Kemudian nanti juga tidak pernah. Sisihkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak dan ketika orang tua tidak mengetahui jawaban, akui dan menawarkan untuk mencari jawabannya.

- Orang tua yang menanamkan disiplin ketika dibutuhkan tetapi tidak dihadapan orang lain
Jangan menanamkan disiplin dihadapan orang lain terutama teman-temannya. Anak-anak menginginkan batasan tetapi jorang tua harus tahu kepan dan dimana menanamkan disiplin.

- Orang tua yang konsentrasi pada hal yang baik alih-alih sesuatu yang lemah
Lihat anak-anak sebagai puzzle potongan gambar yang tidak komplit dan konsentrasi pada membangun menjadi gambar yang indah alih-alih menghilangakn potongan gambar tersebut. Buat daftar kelebihan-kelibihan anak anda dan cari waktu yang tepat untuk menunjukkanya pada mereka.

- Orang tua yang konsisten
Orang tua seringkali tidak konsisten tetapi berusahalah untuk konsisten. Keadaan tidak konsisten dapat merusak anak-anak. Anak-anak harus tahu cinta dan batasan anda konsisten sehingga akan muncul rasa percaya pada orang tua.
Eli Jane

Nakalnya Anak - Anak

Hana

Suatu hari seisi rumah dikejutkan oleh suara teriakan nyaring dari mulut seorang anak yg paling kecil di rumah itu

Anak : "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.."teriaknya yg tanpa dosa sudah membuat onar seisi rumah

Mama : "ade..! kenapa kamu teriak-teriak..?!" tegur mama yg sudah berlari ke luar dari kamar ingin melihat ada apa dengan buah hatinya.

Anak : "Ade teriak pake mulut ade sendiri, ade enggak pinjam mulut mama..?!" bantahnya sambil memonyongkan mulut kecilnya

Mama : "ooohh..gitu..?ya sudah..kamu teriak lagi yg keras, tapi awas..?!mama nda mau suara kerasmu itu masuk ketelinga mama..?! gangguin telinga mama aja..?!" mulai mama berargumen dengan anaknya yg selalu cari perhatian

Anak : " mama punya tangan..?!tutup aja telinga mama sama tangan mama sendiri, kalau enggak mau denger teriakan ade..?!" mulai anak mencari gara2

Mama : "Enak aja..kamu buat kerjaan mama lagi ya..?kamu nda lihat..tangan mama lagi dipake nulis sama mama..?atau kamu yg tutupin telinga mama sama tangan kamu, karena kamu yg pingin teriak kan..?tapi awas..kalau sampai teriakan kamu masih masuk ke telinga mama..?!" jawab mama mulai masuk ke logika anaknya dan langsung buat anak terdiam

--------------------

Hampir tiap hari sang mama selalu mendengar cerita2 dari sekolah anak2nya

Anak : "Ma..kayanya pak Ramli guruku itu banci dech ma..?" cerita anaknya yg tertua

Mama : "Emang..kamu tahu dari mana kalau pak Ramli itu banci..?" Tanya mama sambil merhatiin wajah anaknya dgn menyelidik

Anak : "hmm..itu mah..kalau lagi ngomong..tangannya pasti begini-begitu dech..?" ceritanya lagi sambil menirukan gaya banci yg biasa dilihat di TV

Mama : "ooohh..emang kalau banci.tangannya begini-begini ya..?" jawab mama sambil mengikuti gaya anak sebelumnya

Anak : "hehehe..enggak juga sich..ma..?tapi aneh aja lihat gayanya kaya tessy..?" jawab anak sambil tersenyum2 merhatiin mamanya yg sudah melotot

Mama : "lagi pula..kalau pak ramli banci, apa dia rugiin kamu..?" Tanya mama yg mulai berargumen sama anaknya yg besar

Anak : "nda sich ma..?" jawab anak yg mulai tertunduk sambil menahan senyum2

Mama : "masih mending pak ramli..walau disangka banci, dia masih bisa jadi guru..?lha kamu apa..?" Tanya mama lagi dan membuat anak terdiam

--------------------

Tiba2 mama dikejutkan oleh anaknya yg lari masuk kamar memanggil mamanya

Anak : "mama..beliin ade mainan di tukang mainan itu dong..?!" rengek anaknya yg kecil

Mama : "hari ini mama nda punya uang lebih untuk beliin mainan baru..nanti aja kalau mama sudah punya uang lebih ya..?" jawab mama sambil perhatikan anaknya yg suka protes

Anak : "pokoknya ade enggak mau tahu..?!ade mau mainan itu sekarang..!!" rengek anak lagi yg mulai dengan senjata tangisannya

Mama : "ya..udah beli aja sana..?" jawab mama santai

Anak : "mana uangnya, cepet ma..nanti abangnya keburu pergi..?!" pinta anak yg sudah mulai menarik baju mamanya

Mama : "Lho..emang yg mau beli mainan itu sekarang siapa..?" Tanya mama santai

Anak : "ya..ade lah.."

Mama : "ya..udah pake uang ade dong..?kan yg mau mainan ade dan bukan mama..?"

Anak : "ade kan enggak punya uang..?!pake uang mama dong..?!" jawab anak polos

Mama : "hehe..sama dong..?!mama juga nda punya uang sekarang..?kalau mau pake uang mama..tunggu sampe mama punya uang lagi ya..?" jawab mama sambil senyum2..

Anak : "mama jelek.!!" Protes anak yg memancing mama untuk menggodanya

Mama : "jelekkan ade dong..?kan ade keluar dari perut mama campur sama kotoran..?" goda mama yg melihat anaknya kesal

Anak : "jelek mama dari nenek..?! mama juga keluar dari perut nenek campur sama kotoran.?!" Teriak anak yg mulai kesal dan hanya membuat mamanya tersenyum2 sendiri

Mama : "yeee..mama kan nda katain nenek jelek..?" jawab mama sambil tertawa2 melihat anaknya yg mulai bingung

--------------------

Spt biasa pulang sekolah, pasti ada aja cerita yg disampaikan oleh anaknya yg tertua

Anak : "ma..aku kesal banget sama sherly tadi..?" cerita anak yg terlihat sekali wajah kesalnya

Mama : "hmm..memang si sherly buat apa sama kamu..?" Tanya mama datar

Anak : "tadi si sherly lempar uang untuk pengemis ke comberan..?!mentang2 dia pengemis, emang boleh apa lempar uang begitu..?!mending enggak usah ikasih aja kalau dilempar begitu..?!" kesal anak yg terlihat hampir
menangis.

Mama : "lalu..kamu bilang apa sama sherly..?" Tanya mama yg mulai merhatiin wajah anaknya yg mulai ingin menangis

Anak : "aku bilang..sherly kenapa kamu lempar uang itu ke comberan..?! terus jawab sherly..biarin aja, toch.dia Cuma pengemis..?" cerita anak yg akhirnya menangis

Mama : "terus.." Tanya mama yg serius merhatiin anaknya cerita

Anak : "akhirnya uang jajanku aku kasih ke sherly untuk gantiin uang yg dikasih ke pengemis itu..kasihan pengemis itu ma..dia turun ke comberan ambil uang itu..? aku bilang ke sherly..ini uangnya aku gantiin, baru kasih segitu aja pake dilempar..?!" cerita anak sambil terisak karena tangis

Mama : "hmm..harusnya kamu larang pengemis itu untuk ambil uang yg dicomberan, dan uang kamu itu yg kamu kasihkan ke pengemis dan biarkan si sherly yg ambil uang itu ke comberan..?" usul mama sambil menghapus air mata anaknya

Anak : "aku lupa ma..?" isak anak yg menyesali dirinya dan wajahnya sudah dipenuhi oleh air matanya

--------------------
Eli Jane

Untaian Kata Mutiara

KH. A. Mustofa Bisri

"Semulia-mulianya manusia adalah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat" (Khalifah Abdul Malik bin Marwan).

"Jangan mengukur kebijaksanaan seseorang hanya karena kepandaiannya berkata-kata, tetapi juga perlu dinilai buah fikiran serta tingkah lakunya"

"Jembatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, perkawinan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah"

"kehidupan kita di dunia ini tidak menjanjikan suatu jaminan yang kekal. Apa yang ada hanyalah percobaan, kesabaran dan pelbagai peluang. Jaminan yang kekal abadi hanya dapat ditemui apabila kita kembali semula kepada Ilahi"

"Menjadi manusia merdeka bukan menjadi manusia yang tahu segala, tetapi menjadi manusia yang ketertundukannya kepada semua yang fana tidak melebihi ketertundukan kepada Allah Subhanahu Wata'ala, Laa Ilaha Illallah…"
Eli Jane

Hidup sederhana bukanlah hidup dalam kemiskinan

Saudaraku yang dikasihi Allah hidup sederhana adalah hidup yang diajarkan Rasulullah SAW. Sudah seharusnya dalam kehidupan kita sehari – hari untuk selalu meneladani gaya hidup ala Rasulullah tercinta. Rasulullah makhluk yang paling mulia dimuka bumi ini adalah sebaik – baik contoh bagi umatnya.

Wahai saudaraku yang selalu rindu akan cinta Allah, pemilik jiwa – jiwa yang suci, hidup sederhana bukanlah berarti hidup susah dan senang menderita, tapi hidup yang mengerti mana kebutuhan dan mana keinginan, bukan berarti juga meninggalkan kesenangan dunia, bukan saudaraku…., tapi sadar bahwa setiap kesenangan pasti akan dimintai pertanggung jawaban, kita sering kali lupa bahwa kita akan mempertanggung jawabkan nikmat yang kita terima, seperti :

Kemudian sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini ( yang kamu megah – megahkan di dunia itu )". ( QS. Al-Takatsur 102:8)

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemewahannya berkatalah orang – orang yang menghendaki kehidupan dunia : “ moga – moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun .Sesungguhnya ia benar – benar mempunyai keberuntungan yang besar.
Berkatalah orang – orang yang di anugerahi ilmu : “ kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang – orang yang beriman dan beramal saleh “. ( QS. Al- Qashash 28 : 79- 80 ).

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia – nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikitpun”. (QS. Maryam 19 : 59-60).

Ayat diatas menerangkan keadaan orang yang bermegah – megahan dan di sibukkan oleh harta benda dan orang – orang yang mempunyai sifat selalu menuruti hawa nafsunya padahal Allah telah dengan tegas mengatakan :

Sesungguhnya manusia itu benar – benar dalam kerugian “. ( QS. Al – Ashr 103 : 2 )

Seperti umar Ibnu Khattab semasa menjabat menjadi khalifah, beliau lebih memilih menyisakan kesenangan untuk hari akhir dari pada kesenangannya sekarang. Umar berlaku demikian karena mencontoh sunah Rasulullah SAW. Ia bercerita: “ Aku pernah minta izin menemui Rasulullah, aku mendapatkan beliau sedang berbaring diatas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau berada diatas tanah, beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya, aku tidak sanggup menahan tangisku.
“ Mengapa engkau menangis, hai putra Khattab?” Rasulullah bertanya.
Aku berkata, “ Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini nabi Allah, kekasih-Nya, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk diatas kastil emas, berbantalkan sutra”.
Nabi yang mulia berkata, “ mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita unutk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia sepaerti seseorang yang bepergian pada musim panas, ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya”.( Hayat al- Shahabah 2: 352).

Ingatlah saudaraku, hidup dengan bermegah – megahan hanya akan membuat hati kita menjadi keras, sombong dan akan lebih menjauhkan diri kita dari cinta dan kasih Allah. Kondisi seperti ini adalah seburuk – buruk hati, bukankah Allah sangat membenci sesuatu yang serba berlebih – lebihan?

Al Muhasibi berbisik parau : Kesederhanaan adalah kemuliaan, kesederhanaan baru bisa terwujud kala kita menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan dari perjalanan panjang manusia menuju Tuhan.
Eli Jane

Wanita Lain (The Other Woman)

Author Unknown

Setelah menikah selama dua puluh satu tahun akhirnya kutemukan cara untuk menjaga agar cahaya cinta tetap bersinar.

Beberapa waktu yang lalu, aku keluar bersama wanita yang lain dari biasanya. Gagasan itu justru dari istriku sendiri.

"Aku yakin kau akan mencintainya," kata istriku.
"Tapi aku mencintaimu," protesku.
"Aku tahu itu, tapi kau juga akan mencintainya."

Sebenarnya wanita yang dimaksud istriku tidak lain adalah ibuku sendiri yang telah menjanda selama 19 tahun. Tuntutan pekerjaan dan tiga anakku membuatku jarang mengunjunginya.

Malam itu aku menelepon untuk mengajaknya kencan makan malam dan nonton bioskop.

"Ada apa? Kau baik-baik saja, kan?" ibuku balik bertanya.

Ibuku termasuk tipe orang yang beranggapan bahwa telepon di larut malam dan undangan mendadak adalah pertanda berita buruk.

"Kupikir akan sangat menyenangkan melewatkan waktu bersama Ibu," jelasku. "Hanya kita berdua saja."
Dia berpikir sejenak lalu berkata, "Aku setuju dengan rencanamu itu."

Jumat itu, setelah kerja, aku meluncur ke rumahnya untuk menjemput. Aku sedikit gelisah. Sesampainya di sana, kuperhatikan dia juga agak salah tingkah. Dia memakai mantel, menunggu di depan pintu. Rambutnya dikeriting dan memakai baju yang dikenakannya di ulang tahun perkawinannya yang terakhir. Dia tersenyum dengan wajah seberseri
bidadari.

"Aku bercerita kepada teman-temanku bahwa aku kencan dengan anakku. Mereka terkesan," katanya sambil memasuki mobil. "Mereka tidak sabar menunggu cerita pertemuan kita ini."

Kami pergi ke restoran yang cukup baik dan nyaman. Ibuku menggandeng tanganku seakan-akan ia adalah istri seorang presiden. Setelah kami duduk, kubaca menu. Mata ibuku hanya bisa melihat tulisan yang tercetak dengan huruf besar.

Selama makan kuperhatikan ibu selalu menatapku. Senyuman nostalgia tersungging di bibirnya.

"Biasanya, aku yang selalu membacakan menu ketika kau masih kecil," kata ibu.
"Sekarang santailah, biar aku yang ganti membaca untuk membalas kebaikan ibu," jawabku.

Selama makan malam, kami terlibat dalam pembicaraan yg mengasyikkan. Tidak ada yang istimewa, hanya tentang kejadian-kejadian terakhir dalam kehidupan kami berdua. Kami bicara banyak sampai lupa acara nonton film. Kemudian aku mengantarnya pulang.

"Aku akan keluar lagi bersamamu, tapi atas undanganku," kata ibuku.
"Kalau kau setuju?"

Aku segera menyatakan persetujuanku.

Sesampainya di rumah, istriku bertanya, "Bagaimana acara makan malammu?"
"Sangat menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari yang kubayangkan," jawabku.

Beberapa hari kemudian ibuku meninggal dunia karena serangan jantung. Kejadian itu begitu mendadak sehingga aku tidak sempat berbuat apa-apa.

Kemudian aku menerima amplop ibuku yang berisi kwitansi tanda lunas dari sebuah rumah makan yang rencananya akan kami kunjungi berdua. Amplop itu juga berisi secarik surat yang berbunyi:

"Telah kubayar lunas. Mungkin aku tidak bisa ke sana bersamamu, tapi aku tetap membayar untuk dua orang: untukmu dan istrimu. Kau takkan pernah tahu arti malam itu bagiku. Aku mencintaimu."

Saat itu aku baru menyadari betapa pentingnya mengucapkan: "Aku Mencintaimu" dan memberi orang yang kita cintai waktu yang layak diterimanya.

Dalam hidup ini tak ada yang lebih penting dari Tuhan dan keluargamu.
Luangkan waktu yang layak bagi mereka karena hal itu tak dapat ditunda sampai waktu lain.
Eli Jane
Sunday, January 8, 2006

Perbaiki Persahabatan Yang Retak

Kesalahanpahaman dapat menganggu dan memutuskan hubungan persahabatan sekalipun persahabatan telah terjalin kuat. Kita semua butuh teman. Teman menjadi orang yang dapat diajak bicara dikala kita punya masalah dengan pasangan, ketika kita memiliki masalah di tempat kerja atau bahkan masalah di rumah sendiri. Teman dapat membantu kita melewati masa-masa sulit, menawarkan kita nasehat, memberikan kenyaman dan mendukung disaat kita lagi dirundung kesedihan.

Tetapi memiliki teman yang saling mengerti tidaklah muda dan terkadang kita lupa sebuah persahabatan membutuhkan beberapa perhatian dan kalau tidak, persahabatan bisa memudar dan kadang persahabatan mengalami ketidakseimbangan. Misalnya, satu teman anda hanya bisa berbicara saja atau hanya ingin selalu diperhatikan, dan anda menemukan perasan tidak aman, marah atau terabaikan.

Jika anda tidak mampu mengatasi, perasaan ini dapat merusak dan mengancam persahabatan. Tumbuh menjadi kekecewaan dan suatu saat bisa meledak atau anda menghindari dan akhirnya anda akan kehilangan teman baik.

Berikut beberapa tips untuk membantu anda mengatur dan memperbaiki hubungan persahabatan yang retak:

Berbicara
Jika anda tidak senang dengan sesuatu yang seorang teman katakan atau lakukan, katakan padanya dengan jelas. Anda harus tahu bahwa reaksi atau kata-katanya memiliki pengaruh pada anda. Ia mungkin akan defensif ketika anda mengatakan tetapi ada juga kemungkinan hal itu menjadi pembuka mata bagi dirinya setidaknya mengerti ketidaksenangan.

Ketika anda bertengkar
Jika anda berargumen dengan teman sampai terjadi ketegangan, berikan waktu untuk mendinginkan suasana tetapi jangan terlalu lama sebelum anda mengusulkan untuk bertemu minum kopi, nonton film atau aktivitas lain misalnya.

Tetap berhubungan
Anda harus selalu berhubungan dengan teman jika anda ingin menjaga persahabatan tetap hidup. Dan berikut beberapa cara yang perlu dilakukan:

- Sering kirim e-mail pada teman-teman anda, sekalipun hanya sebuah catatan singkat lebih baik daripada tidak.

- Telepon dan chat minimal sekali seminggu. Percakapan yang singkat lebih baik dari pada tidak sama sekali.

- Pergi ke tempat senam, olahraga bersama-sama, atau pergi ke supermarket atau ke pusat kecantikan bersama-sama.

- Bertemu dan makan siang bersama atau setidaknya minum kopi minimal sekali dalam satu minggu.
Eli Jane
Friday, January 6, 2006

Berpikir dan Bertindak Demi Hari Esok

Arda Dinata

Jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.
(Vernon Howard).

Pada suatu hari Bahlul sedang berjalan-jalan di sebuah jalan di kota Basrah. Tiba-tiba, ia melihat anak-anak tengah bermain dengan buah kemiri dan pala. Namun, di sana ada seorang anak yang hanya menonton teman-temannya sambil menangis. Bahlul menghampirinya dan berkata dalam hati, "Anak ini bersedih karena tidak memiliki mainan seperti yang dimiliki oleh anak-anak yang lain." Kemudian Bahlul berkata kepadanya, "Anakku, mengapa kamu menangis? Maukah aku belikan buah kemiri dan pala, sehingga kamu dapat bermain dengan teman-temanmu?"

Anak itu menatap Bahlul, lalu menjawab: "Hai orang yang kurang cerdas, kita diciptakan bukan untuk bermain-main." "Lalu untuk apa kita diciptakan?" tanya Bahlul.
Anak kecil itu menjawab, "Untuk belajar dan beribadah." Bahlul bertanya lagi, "Dari mana kamu memperoleh jawaban itu? Kiranya Allah memberkatimu".

Dia menjawab, "Dari firman Allah dalam QS Al-Mu'minun ayat 116, Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu untuk bermain-main dan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"

Kisah antara Bahlul dan seorang anak itu, memberikan pelajaran bagi siapa pun. Bahwa manusia diciptakan untuk belajar dan beribadah. Demikian pula halnya dengan kehidupan berkeluarga. Kita tentu semata-mata harus membangunnya di atas dasar koridor belajar dan beribadah kepada Allah.

Betul, kalau setiap anak itu butuh bermain dalam hidupnya. Namun, tentu bermain yang mengandung dan mengarahkan si anak kepada proses belajar membangun aktivitas beribadah kepada Allah SWT. Apalagi, saat ini di sekitar kita begitu banyak tersebar aneka fasilitas dan informasi bermain yang ditawarkan pada anak-anak. Yang kadangkala kalau orang tua tidak hati-hati, permainan itu tidak islami dan bisa merusak akidah anak kita.

Di sinilah, barangkali perlunya peran serta dan kemampuan pola kebijakan orang tua dalam memilih teman bermain anak-anaknya. Dan sebenarnya, inti dari belajar itu adalah berpikir dan bertindak. Bukankah, perilaku yang diperbuat oleh tiap manusia, semata-mata diawali dari sebuah niat dan pola pikir dalam hati dan akalnya. Untuk itu, tiap orang tua dituntut agar niat dan akal anak-anaknya harus ditata dan dibina dengan baik agar melahirkan perbuatan yang dapat menjadi bekal dan penyelamat dalam menyongsong masa depannya.

Jadi, berpikir dan bertindak ini jelas-jelas akan menjadi kunci keberhasilan dari apa-apa yang kita inginkan, termasuk dalam pembentukan keluarga sakinah. Dalam hal ini, Vernon Howard mengungkapkan, jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.

Untuk itu, bangunlah setiap saat pola pikir dan tindakan anak-anak kita sesuai etika dan perilaku islami. Karena menurut John Kehoe, melalui pengulangan, pikiran menjadi terpusat dan terarah serta kemampuannya dapat berlipat ganda setiap saat. Semakin sering diulang, semakin banyak tenaga dan kekuatan yang terkumpul dan semakin siap untuk diwujudkan.

Akhirnya, tidak ada jalan lain untuk menyongsong hari esok, selain setiap anggota keluarga Muslim harus betul-betul menyadari bahwa dalam hidup ini, kita harus memperhatikan bekal-bekal apa saja yang telah dipersiapkan dan diperbuat bagi kehidupan di hari esok. Allah berfirman, "dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)" (QS. Al-Hasyr: 18). Wallahu a'lam.
Eli Jane
Thursday, January 5, 2006

Bermain dengan Ayah

Arda Dinata

"Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kau lakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan." (Margaret Young).

Sore itu, cuaca begitu cerah. Pak Zaenal seperti biasa setelah shalat Ashar, baru pulang dari kantor. Begitu sampai di rumah, Pak Zaenal mengucapkan salam dan membuka pintu rumah. Di sana, didapati putri kesayangannya, Alifia (5 th), yang sedang menunggu dan menyambut dengan antusias atas kehadiran ayahnya. Anak ini, seakan-akan tidak mempedulikan kondisi ayahnya. Biar kondisi ayahnya capek, lelah, dan perlu istirahat. Pokoknya dalam pikirannya hanya ada satu kata, yaitu "bermain dengan ayah". Dalam pikirannya, bermain dengan ayah adalah sesuatu yang paling menyenangkan. Dalam keadaan itulah, biasanya hati Pak Zaenal luluh untuk menuruti kemauan anaknya.

Dan Pak Zaenal menghibur dirinya dalam hati dengan ucapan, "Bukankah saya selaku orang tua harus mampu memposisikan pikirannya dengan pikiran si anak. Lagi pula kita selaku orang tua harus mampu memformulasikan rasa lelah, bijaksana, emosi anak, mendidik, dan hiburan menjadi satu bentuk amal keikhlasan," ucap hatinya. Akhirnya, terciptalah kebersamaan Pak Zaenal dengan anaknya. Keduanya bermain-main naik sepeda keliling rumahnya. Hilang sudah "rasa lelah" Pak Zaenal, berganti keceriaan yang tiada tara, baik dirinya maupun anaknya. Dan seperti biasanya, saat bermain itulah Pak Zaenal tidak lupa menyelipkan tarbiyah tentang kehidupan kepada anaknya. Hiburan merupakan kebutuhan tambahan yang cukup memberi andil dalam perkembangan anak.

Dari aktivitas hiburan ini, akan terbentuk penyegaran pikiran dan fisik. Ialah obat dari kejenuhan rutinitas hidup seseorang. Baik bagi suami, istri, maupun anak. Dalam koridor seperti itu, biasanya emosional orang tua menjadi luluh. Orang tua memenuhi keinginan seorang anak untuk mendapat hiburan. Hiburan apa? Seperti yang terjadi pada Pak Zaenal, ternyata di luar dugaannya. Sang anak hanya ingin naik sepeda. Dengan naik sepeda keliling lingkungan RT, wajah sang anak begitu terlihat bahagia. Begitu juga pada keluarga lain, anak-anak itu sebenarnya tidak menuntut banyak tentang jenis hiburannya.

Tapi, dirinya ingin bermain dengan kemampuan orang tuanya. Bisa dikatakan langkah Pak Zaenal itu, adalah sesuatu yang menjadi ikon pribadi seorang ayah yang bijaksana. Karena menurut Margaret Young, sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan. Naik sepeda, begitu sederhana. Tak perlu biaya banyak dan relatif setiap orang tua mampu melakukannya.

Tapi, hal sederhana itu, justru subhanallah, besar manfaatnya. Di antaranya, bagaimana kita bisa mengajarkan rasa syukur nikmat, menghormati orang lain, aktivitas amaliah di dunia, dan lainnya. Tarbiyah itu, tentu masih dalam jangkauan pikiran dan bahasa anak-anak seusianya. Salah satu kesan menghibur anak dengan naik sepeda itu adalah proses mendidik anak untuk mensyukuri nikmat. Aktualisasi rasa syukur nikmat itu secara sederhana, kita bisa mencontohkan misalnya bagimana seorang manusia yang diberi anggota tubuh yang sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya; terciptanya hewan, tumbuhan; adanya matahari, bintang, langit, awan, dan lainnya.

Atau berupa nikmat non materi seperti nikmat sehat dan adanya waktu senggang, sehingga kita bisa bermain. Pokoknya, pemberian kebutuhan hiburan kepada keluarga, lebih-lebih pada anak, adalah lebih utama dari yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda, "Pemberian tambahan seseorang kepada keluarganya lebih utama daripada pemberian tambahan kepada orang lain, seperti kelebihan seseorang shalat berjamaah dibanding seseorang shalat sendiri." (HR. Ibnu Abu Syaibah). Wallahu a'lam.
Eli Jane

Suatu Hari di Sebuah Angkot

Prie GS

Sebuah angkot, selebor jalannya. Cepat tidak, lambat pun tidak. Di pinggir tidak, di tengah pun tidak. Jika berhenti sesuka hati. Terhadap bunyi klakson yang marah ia seperti tuli. Terhadap akibat atas ulahnya ia tak peduli.

Saya pernah menjadi bagian dari orang yang jengkel itu. Tak cuma jengkel tapi marah. Betapa menyenangkan membayangkan sopir semacam ini diseret untuk kita caci-maki. Kepadanya harus diberi kuliah dan sumpah serapah betapa memakai jalan seenaknya adalah kejahatan.

Pertama ialah karena ia menganggap jalanan umum itu sebagai milik bapaknya. Kedua karena ulahnya bisa menimbulkan kemacetan. Ketiga karena kecerobohannya bisa menimbulkan kecelakaan. Tiga kejahatan sekaligus. Tapi paling menyedihkan adalah kejahatan keempat: bagaimana mungkin orang yang sudah begini jahat sama sekali tidak menyadari kejahatannya.

Maka adalah lebih menyenangkan lagi membayangkan orang itu diseret tidak sekadar untuk dicaci maki, tapi sudah layak dikeroyok ramai-ramai. Dihajar hingga kapok, dipaksa minta ampun dan meratapi dosanya. Membayangkan wajahnya yang takut dan kalah tentu akan menjadi kegembiraan. Maka untuk bisa membuat bayangan itu lebih nyata, angkot yang tengah berhenti sembarangan untuk mencari penumpang itu harus disalip, wajah sopir itu harus dilihat seutuhnya.

Hanya setelah wajah itu tertangkap, sejarah terpaksa harus berubah. Sopir itu ternyata tak lebih dari lelaki kecil, hitam, kusut dan kosong pula pandang matanya. Klakson yang hiruk-pikuk menghardiknya, bahkan tak sanggup mengatupkan mulutnya yang menganga. Sikap mulut yang menggambarkan betapa otak lelaki ini memang sedang kosong, terbang entah kemana.

Wajah itu pula yang memaksa saya menengok angkot tuanya dengan penumpang seorang saja. Dari jumlah penumpangnya, lalu terbayang berapa anak di rumahnya, berapa biaya sekolahnya dan apakah pendapatannya sebagai sopir cukup untuk menutup itu semua.

Imajinasi ini lalu bereskalasi, membesar sendiri. Pastilah di kampungnya, sopir ini juga sering diundang kondangan sambil menyumbang tatangga serta kolega. Dan undangan itu pasti tidak cuma satu atau dua, tapi bisa tiga, empat, lima... dan seterusnya. Dan ia pun pasti menyumbang dengan kepantasan. Bisa berlebih tapi jangan berkurang dari ukuran kewajaran.

Di sekolah, anak-anaknya pastilah juga anak-anak seperti pada umumnya yang harus bersepatu dengan merek seperti yang lazim dipakai teman sebaya. Sekolahnya pun pasti sekolah pada umumnya yang harus mengenal beli buku, bayar SPP dan uang saku. Karena Indonesia memang negeri umum. Artinya, keadaan orang tua boleh berbeda tapi anak-anak mereka harus menghadapi beban dan godaan yang sama.

Jadi yang boleh berbeda hanya soal status dan pendapatan orang tua saja. Bahwa jika sopir ini cuma mendapat sebegini adalah lumrah adanya. Bahwa jika pejabat itu mendapat sebegitu adalah cocok dengan ketinggian jabatannya. Engkau memang boleh berbeda tapi anak-anakmu tidak. Karena mereka bisa bertemu di sekolah yang sama dan menghadapi dunia yang sama. Apapun jenis penghasilanmu tak bisa mencegah laju pengaruh bagi anak-anakmu. Tak peduli apapun pebedaan statusmu, anak-anakmu bisa melihat iklan gaya hidup di televisi bersama, bisa sama-sama menonton sinetron Opera SMU yang ngetop tapi dituduh jiplakan itu.

Jadi, pantas saja jika sopir angkot itu kosong tatap matanya. Pantas saja jika hujan klakson tak dia dengar dan kemarahan itu tak ia rasa. Karena tekanan jalan raya itu ternyata pasti kecil saja dibanding tekanan hidupnya. Yang keliru akhirnya kita juga yang kerap menuntut orang-orang tertekan itu agar berbuat mulia. Sebagai penonton dari kejauhan, tuntutan kita kadang memang sering keterlaluan.
Eli Jane

Kakek dan Cucu yang Menangis Bersama

Prie GS

Penertiban sebuah pasar menyisakan sebuah foto: seorang kakek memeluk cucu dan menangis bersama saat melihat tempat dagangan mereka digusur paksa. Kita tidak mengenal siapa cucu itu, tapi kita mengenal perasaannya. Ia pasti cucu yang tengah berduka demi melihat kakeknya menderita. Cucu yang demikian pasti cucu yang dekat dengan kakeknya. Kedekatan itu pasti bukti kalau mereka saling cinta.

Sejumlah ''kepastian'' berikutnya bisa dibangun lebih jauh. Karena kakek itu hanya pedagang buah kecil, cintanya pada sang cucu pasti juga diekspresikan dengan cara-cara yang kecil. Jika membawa oleh-oleh pun pasti dari kelas yang kecil saja. Karena semua sumber kasih sayang si kakek juga cuma berasal dari dagangan buahnya yang kecil. Kini sumber yang kecil itu telah porak poranda.

Cucu itu, perempuan, berkulit hitam, keriting dan sekitar 5 tahun usianya. Ia adalah anak-anak pada umumnya, yang selalu bisa mengingatkan setiap orang tua pada anaknya, setiap kakek-nenek pada cucunya. Anak-anak adalah sebuah melankoli, yang bisa membuat kita menangis tanpa harus menunggu mereka menjadi korban tragedi.

Ada jenis orang tua yang tak henti mengutuk diri sendiri setelah usai menghukum anaknya. Gara-gara rengekan panjang si anak, orang tua ini kalap. Dia ambil handuk, disabetnya punggung si anak bertubi-tubi. Tidak cukup menyakiti, tapi cukup membuat si anak menggigil ngeri. Bukan oleh kesakitan, tapi oleh ketakutan. Takut demi melihat orangtuanya bisa berubah garang secara tiba-tiba, sebuah kelakuan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Si anak ini pun mengkerut dan hampir pingsan oleh luka di hatinya. Si orang tua sendiri menjadi kaget ketika kemarahannya reda. Sejak itu, ia selalu menangis setiap terbayang wajah anaknya yang kaget dan ngeri itu. Setiap bepergian ia selalu kepingin buru-buru pulang hanya untuk segera memeluknya.

Orang tua yang lain lagi malah dilanda kecengengan yang lebih tidak bermutu. Hanya karena si anak telah bisa menari di pentas Agustusan, orang tua ini bisa sesenggukan di belakang panggung. Sementara penonton tergelak ketika melihat si anak melakukan kesalahan, sang orang tua malah makin keras tangisnya. Geli, haru, takjub dan iba mengharu-biru hatinya.

Jenis orang tua yang lain lagi malah punya cara menangis yang lebih sederhana: berfantasi. Melihat anak-anak bersekolah dengan membonceng sepeda onthel bapaknya, tergencet lalu lintas yang ganas, diguyur debu, disembur asap knalpot dan dipanggang terik, menangislah dia. Melihat anak-anaknya lelap tidur di malam sepi, menangislah dia. Membayangkan ia gagal memberi pendidikan terbaik, membayangkan anaknya menjadi korban keganasan jalan raya, menderita karena hidup di zaman yang korup dan rusak, berurailah airmatanya.

Sungguh, untuk terharu pada anak-aak, manusia tak perlu menunggu mereka menjadi korban musibah. Padahal bangsa ini tak henti-hentinya menyiapkan musibahnya. Kita bisa membangun supermaket tapi tak becus menata lahan parkirnya dan ruwetlah akibatnya. Pemerintah bisa menetapkan seorang tersangka tapi ada saja ''anggota'' pemerintah yang selalu sibuk membela, menjenguk jika ia dipenjara, membezuk jika ia sakit. ''Silaturahmi sebagai sesama umat beragama.'' katanya. Maka kacaulah rakyat dibuatnya.

Padahal jika suatu bangsa telah memiliki dua hal: pemimpin yang egois dan pemerintah yang terpecah-belah, maka lengkaplah bakat bangsa itu sebagai biang musibah.

Jadi, masih akan banyak lagi anak-anak yang bersiap menjadi korban musibah. Padahal melihat mereka, kita akan selalu terkenang anak-anak kita sendiri.
Eli Jane

Katakan Cinta dengan Aniaya

Prie GS

Salah satu hobi yang saya sendiri sering mengeluhkan adalah kebiasaan untuk suka dipijat. Begitu hebatnya hobi ini hingga istri dan anak-anak pun lebih suka menyingkir jika saya sudah kedapatan merebahkan badan. Pendek kata tidak ada hari tanpa pijat. Bagi mereka, mendekat di saat seperti ini hanya berarti kerja paksa. Malah secara terbuka istri pernah mengeluh, bahwa ia merindukan kedekatan tanpa ada gangguan pemijatan. ''Menjadi pemijat kan dulu tidak termasuk dalam kontrak perkawinan,'' sungutnya.

Saya tahu kekesalannya. Tapi jika tubuh ini sudah diserang pegal di sekujur, yang saya pedulikan cuma satu: mengusir pegal ini secepatnya. Walau sebetulnya, pijat bukan sekadar pengusir pegal. Yang terpenting adalah bahwa di dalam pijat ini ada kontak lahir batin. Capek fisik mendapat obatnya, kemanjaan batin mendapat penyalurannnya. Efek rangkap inilah kenapa yang membuat pijat lebih adiktif, lebih bikin nyandu dibanding narkoba.

Tapi saya memilih menyerah dalam perangkap bahaya ini. Karena saya yakin, saya tidak sendiri. Seorang santri, yang kini sudah menjadi kiai hebat, pernah bercerita bahwa pijat bisa menjadi alat paedagogi, sarana mengajar yang dahsyat. Karena pijatlah ia merasa bisa menjadi seperti sekarang. Oleh gurunya, ia sering mendapat tugas memijat hingga sang guru tertidur. Sebagaimana santri yang patuh, ia belum berhenti jika sang guru belum benar-benar tertidur.

Semula ia cuma menduga ini cuma tugas struktural biasa, antara bos dan stafnya. Tapi lama-lama ia menangkap niat terpendam gurunya. Bahwa untuk guru sehebat itu, pemijat paling hebat pun akan datang dengan suka cita. Jika sang guru mimilihnya, pasti bukan karena kualitas pijatannya. Di akhir cerita, si santri ini sepenuhnya yakin, lewat pijat itulah sang guru tak cuma sedang menyalurkan ilmunya tapi juga menyalurkan hasrat sayangnya pada sesama.

Cerita ini sungguh membuat saya makin percaya diri untuk memperalat anak istri saya. Si TK dan Si SD telah biasa menginjak-injak punggung bapaknya meskipun dengan segenap omelan dan protes di sana-sini. Ada kalanya, protes itu malah sudah demikian penuh kemarahan, mereka bahkan bukan menginjak-nginjak lagi, melainkan sudah melompat-lompat di sekujur badan untuk tujuan menyakiti bapaknya. Di mata anak-anak, saya ini pasti hanya tukang perintah kerja paksa, tukang rampok waktu bermainnya.

Tapi mereka tak pernah tahu, betapa saat melihat mereka ngomel itulah saya bisa tertawa sambil membenamkan suara di bantal sekuat-kuatnya. Inilah momen terlucu anak-anak saya. Lebih-lebih si TK yang bakat menipunya sudah mulai muncul itu. Sangat tidak mudah membujuk dia untuk segera melompat ke punggung bapaknya. Ia akan terus berusaha menunda kesanggupannya dengan berbagai cara. Ada karena roda mobil mainannya yang lepas dan butuh diperbaiki. Ada robot-robotan yang patah tangan dan harus disambung. Jika semua sudah terpasang, ia masih meminta waktu lagi untuk memasukkan barang-barang ke kotak mainan. Padahal kotak mainan itupun bukan barang yang mudah ditemukan karena hanya dicari ketika waktu menginjak punggung tiba.

Jadi ada saja akalnya untuk mengulur waktu. Giliran ia sudah tak punya alasan lagi dan harus segera bekerja, ia bisa minta berhenti ketika baru menginjakkan sebelah kakinya di badan ini. ''Nih sudah!'' katanya sambil ngeloyor pergi. Maka menariknya kembali, menindihnya sampai ia meraung-raung dalam pengertian sebenarnya adalah kriminalitas yang menyegarkan.

Begitu juga dengan istri. Menikmati pijatan dan omelannya sambil terpejam sungguh menggembirakan hati. Omelan itu malah seperti hiburan saja. Oo, inilah wanita yang sudah lelah mengurus anak-anak itu, yang mengawasi setiap jengkal rumah, cucian, seterikaan, mengatur uang belanja, bayar listrik, telpon, mengangsur kredit, mengarsip dokumen keluarga, memasak... masih harus memijat suami pula.

Untuk mengucapkan rasa terimakasih secara terbuka, saya tak biasa. Untuk terharu secara terang-terangan gengsi saya tak mengizinkan. Untuk merayunya seperti adegan sinetron sebagai tanda cinta, saya sudah trauma. Karena pernah saya meniru adegan rayuan seperti di televesi itu, istri saya malah geli tanpa henti. Sudah tentu saya tersinggung. Sejak saat itu saya berjanji tidak akan merayunya lagi.

Sulit bagi saya untuk mengatakan cinta pada mereka secara terbuka. Jadi, jalan satu-satunya yang saya bisa ialah dengan cara memperalat mereka.
Eli Jane

Betapa Ingin Saya Dicemburui

Prie GS

Sebagai suami, sangat ingin saya melihat istri cemburu. Tapi ternyata keinginan ini tidak mudah. Berbagai godaan telah saya coba, tapi hasilnya nihil belaka. Di tempat-tempat umum, saya secara terus terang sering menatap wanita-wanita yang lalu lalang. Jika ada yang cantik saya mengaguminya secara terbuka. Dan hebatnya, istri saya malah ikut berkomentar serupa.

Tentu saya kecewa dan segera mengubah taktik. Dengan melihat wanita lain secara diam-diam, barangkali akan lebih membuat panas hatinya. Tapi hasilnya malah lebih gawat. Karena saya beraksi diam-diam, dia juga cuma diam, dan akhirnya memang tidak terjadi apa-apa. Bahkan untuk membaca tanda, apakah dia tahu apa yang saya lakukan pun sama sekali tak bisa.

Sebagai lelaki, saya terancam rendah diri. Saya membayangkan dengan rasa iri, teman-teman lain, para suami yang sangat dicemaskan oleh istri-istri mereka. Apakah gerangan salah saya? Pekik saya dalam hati. Oo jangan-jangan karena istri saya pernah terprovokasi oleh gurauan teman karib saya, seorang yang sangat suka bercanda dan sudah sangat terbuka dengan keluarga kami.

Di suatu kesempatan, kami, dua pasangan keluarga lengkap dengan anak-anak, berkencan untuk berlibur bersama. Di tengah keramaian, saya sempat tersesat dari rombongan dan istri saya bingung mencari-cari. Ketika ketemu, bukan rasa syukur yang ia gambarkan, tapi sikap geli. ''Kenapa?'' tanya saya penasaran. Ia menjawab, masih dengan tawa yang tertahan. Bahwa menurut sang karib tadi, istri saya tak perlu cemas pada saya, dan tak perlu khawatir saya akan digoda lain wanita, misalnya. ''Karena satu-satunya wanita yang menyukai dia cuma mbak saja,'' kata si karib yang jahat ini.

Saya curiga istri sangat mempercayai hal ini. Buktinya, sejak itu ketenangannya makin menjadi-jadi. Apapun manuver yang saya siapkan untuk memanaskan hatinya, malah membuat saya kelelahan sendiri. Setelah benar-benar menyerah, saya jadi kalap. ''Kamu ini bisa cemburu apa tidak sih?'' bentak saya marah. Tapi jangankan kaget, istri saya malah tersenyum dan ganti bertanya. ''Apa kamu juga pernah cemburu kepadaku?''

Wah kaget juga mendapat serangan yang tak terduga ini. Tapi karena ini pertanyaan gampang, berondongan jawaban langsung saya lepaskan. ''Tentu saja tidak. Engkau istri yang baik. Setia. Terlalu baik, dan terlalu setia. Cemburu jelas tidak pernah terlintas di kepalaku,'' kata saya dengan keyakinan seorang suami yang sedang ada di puncak kesetiaannya. Tapi apa jawab istri? ''Jawabanku sama dengan jawabanmu!''

Jawaban ini membuat saya sulit menyembunyikan rasa marah dan putus asa. Jadi, kalau saya tidak pernah cemburu kepada dia, punya hak apa saya ini meminta dia mencemburui saya? Jika saya begitu percaya kepada dia, kenapa tidak boleh dia mempercaya saya sepenuhnya?

Ooo, kunci dari masalah saya ini ternyata berasal dari sebuah jebakan mental berpikir yang sekarang sedang ramai disebut sebagai bias jender itu. Bahwa kebiasaan berpikir kita telah dibentuk oleh dua perspektif ekstrem: lelaki dan perempuan. Dan dengan segenap kepatuhan, otak saya telah tunduk oleh perangkap berpikir khas laki-laki yang telah diajarkan secara turun-temurun ini. Bahwa lelakilah yang layak dicemburui karena selalu lelaki yang rawan godaan. Pikiran laki-laki ini pula yang membuat saya jadi lupa mencemburui istri, karena di mata saya ia sudah pasti setia.

Padahal siapa menjamin bahwa istri saya pasti setia dan saya pasti tergoda? Sama sekali tidak ada. Bagaimana jika terbalik bahwa sayalah yang setia dan istri sayalah yang tergoda. Maka hari-hari ini, saya sedang belatih membayangkan seandainya istri saya jatuh cinta dengan lain lelaki. Ketika bayangan ini membesar, saya lalu jadi gelisah. Rasa cemburu saya bangkit dengan sendirinya dan baru saya menyadari: setelah saya pikir-pikir, istri saya itu toh memang terlalu cantik untuk ukuran saya. Jadi sebetulnya dia yang lebih rawan tergoda. Dan ketika saya cemburu, dia tampak bahagia. Sialan!
Eli Jane
Tuesday, January 3, 2006

Banyak Berpesan Satu Sama Lain

Di antara akhlak mereka adalah banyak berpesan satu sama lain dan menerima nasihat dengan lapang hati serta berterima kasih kepada pemberi nasihat. Bagi mereka memberi nasihat tidak dengan sendirinya memandang bahwa mereka telah melakukan kewajiban. Sebab urusan urusan akhirat tidak dapat dinilai dengan urusan pesona duniawiah.

Pernah seorang laki-laki bertanya kepada Hasan Basri: "Berilah aku nasihat." Ia menjawab: "Junjunglah tinggi tinggi perintah Allah (SWT), dimana pun kamu berada maka Allah akan memuliakan kamu dimana pun kaum berada."

Seseorang berkata, kepada Umar bin Abdul Aziz: "Nasihatilah aku" Ia pun berkata: "Hati-hatilah menjadi orang yang bergaul dengan orang-orang salih kecuali dengan meniru kesalihan mereka, atau mencela para pelaku dosa tetapi tidak menjauhi perbuatan dosa, atau orang yang menampakkan diri musuh setan di depan orang tetapi mengikuti ajakannya secara diam diam."
Seoraang laki-laki berkata kepada Muhammad bin Wasi': "Berilah aku nasihat." Ia menjawab: "Jadilah raja di dunia dan di akhirat." Ia bertanya: "Bagaimana itu, dapat terjadi?" Ia menjawab: "Berzuhudlah dalam hidup di dunia." Laki laki itu meminta: "Tambahlah nasihat Anda." Ia berkata: "Jadilah dirimu ekor dan duduklah dengan manusia dan janganlah menjadikan dirimu kepala dan meminta mereka duduk bersamamu."
Umar bin Abdul Aziz pernah datang menemui seorang ahli ibadah lalu berkata: "Aku datang menemui mu untuk meminta nasihat." Ia lalu menjawab: "Seandainya aku tahu bahwa engkau adalah orang yang takut kepada, Allah (SWT) tentu aku menasihatimu." Kata katanya ini membuat umar jatuh pingsan.

Umar juga pernah mengatakan bahwa ia melihat Abu Abbas Khidhir (as) dalam mimpi lalu meminta nasihat kepadanya. Ia pun berkata: "Hai Umar, janganlah kamu menjadi wali Allah secara lahiriah tetapi menjadi musuhNya secara diam-diam."
Seorang, laki-laki berkata kepada Isa (as): "Nasihatilah aku, wahai Ruh Allah (SWT)." Ia menjawab: "Hingga berapa kali seseorang di antara kamu dinasihati, tetapi tidak sadar juga? Kalian membuat para pemberi nasihat capai dan susah! "
Seorang laki-laki berkata dengan demikian kepada Hasan Basri: "Berilah aku nasihat." Ia menjawab: "Jangan melakukan dosa lalu kamu mencampakkan diri ke dalam neraka, padahal jika kamu melihat seseorang mencampakkan udang kecil ke dalam api tentu kamu mengecamnya. Sementara kamu mencampakkan diri ke dalam api neraka berkali kali setiap hari tetapi kamu tidak mengecam diri kamu sendiri."

Seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Mubarak: "Berilaku aku nasihat". Ia menjawab, "Tinggalkanlah pandangan mata yang tidak perlu maka kamu memperoleh kekhusyukan, tinggalkanlah kata-kata yang tidak penting maka kamu mendapatkan hikmah kearifan, tinggalkanlah kelebihan makanan maka kamu memperoleh taufik beribadah, tinggalkanlah mencari-cari keburukan orang lain maka kamu akan menyadari keburukan keburukan diri kamu sendiri, dan tinggalkanlah membicarakan tentang dzat Allah (SWT) maka kamu terpelihara dari kemunafikan dan keragu raguan."
Seorang laki-laki berkata, "Ibnu Sirin Nasihatilah aku." Ia menjawab: "Janganlah iri pada seseorang, sebab jika ia adalah ahli neraka maka bagaimana kamu iri padanya hanya karena pesona dunia yang fana yang akan mengantarkannya ke neraka. Jika ia adalah ahli surga maka ikutilah amal perbuatannya dan irilah pada kebaikannya. Sebab yang demikian itu lebih utama dari pada irimu padanya dalam urusan duniawiah."
Seseorang laki-laki bertanya kepada Hasan Basri: "Nasihatilah aku." Ia menjawab: "Mengherankan benar lisan yang menjelaskan, hati yang memahami dan perbuatan yang bertolak belakang!"

Seorang laki-laki bertanya kepada Sufyan bin Uyainah: "Nasihatilah aku." Ia menjawab: "Janganlah kamu takabur atau makan sesuatu dari harta orang lain tanpa dengan cara yang benar. Sebab orang yang menyombongkan diri pasti menjadi hina dan orang yang mengambil harta orang pasti merasa kurang."

Suatu kali Hasan Basri mendengar seorang laki-laki berkata: "Orang mengikuti siapa yang ia cintai." Lalu Hasan Basri menyela seraya berkata: "Janganlah terpedaya saudaraku oleh kata-kata itu. Sebab kamu tidak akan menemukan orang-orang baik kecuali jika kamu berbuat seperti perbuatan mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mencintai nabi nabi mereka tetapi mereka bukanlah ahli surga karena perbuatan mereka itu bertentangan dengan perbuatan para nabi mereka."

Kemudian ia berkata lagi: "Sungguh mengherankan, suatu kaum yang mengajak mencari bekal dan menyerukan pergi ke akhirat, sementara mereka hanya duduk-duduk sambil tertawa-tawa. Sedangkan pergantian siang dan malam hakikatnya kendaraan yang sedang mengantar mereka ke sana tanpa disadari."

Syaqiq al-Balkhi mengajak sahabat-sahabatnya mempersiapkan diri menghadapi maut dan berkata: "Mungkin salah seorang di antara kita mempersiapkan diri untuk kematian selama lima puluh tahun tetapi ia tidak siap menghadapinya. Kesiapan yang sebenarnya adalah zuhud di dunia seperti Umar bin Khattab (ra), yang mana ia mengatakan kepada maut setiap hari pagi dan sore: 'Hai. Malaikat maut, ambillah aku kapan pun engkau mau'."

Di antara dalil yang dipegang oleh mereka tentang perilaku ini adalah sabda Nabi (SAW): "Gunakanlah lima perkara sebelum (datangnya) lima perkara lainnya, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu dan masa hidup sebelum kematianmu."
Eli Jane

Cahaya Ditengah Kegelapan

Senja di atas Indonesia teramat merah jingga, ketika syetan-syetan berkelebat memenuhi cakrawala. Lalu Nabi saw, menyabdakan agar kita menutup pintu-pintu rumah, menutup kendil dan makanan-makanan, menyuruh anak-anak supaya segera masuk ke dalam rumah.

Sebab ketika senja menjelang surupnya, syetan berkeliaran di mana-mana.
Apa yang terjadi ketika musim senja tiba? Sebuah fakta, bahwa kita segera memasuki kegelapan malam. Jubah-jubah hitam membungkus bumi. Angin wabah menusuk jantung. Hanya hati kita yang bergantung di langit, bersama bintang-bintang, bahkan bersama siraman cahaya purnama. Hati kita.

Kita sedang istirah dalam doa-doa malam. Kita ditunggu Allah di sepertiga terakhirnya. Kita lampiaskan segala keluh kesah dan kekesalan atas kezaliman. Kita sampaikan pula segumpal darah yang menyelinap di dalam dada kita. Hati yang kita pasrahkan kepadaNya. Kita gemuruhkan tabuhan-tabuhan tasbih, sholawat dan permohonan ampunan. Kita gali sungai airmata dari mata air kemahaindahanNya (Jamaliyah-Nya). Sebab, Fajar Kehidupan menunggu masa depan kita.

Itulah awalnya. Ketika, kita bangun pagi, tiba-tiba di depan kita, negeri ini, adalah reruntuhan. Ia dihadapkan pada kenyataan, betapa bangsanya hanyut dalam mimpi 32 tahun, dan begitu bangun segalanya telah musnah. Dengan tertatih-tatih bersama sisa-sisa waktu, ada seorang pemimpin membangkitkan lagi semangat, menyalakan lagi api, meniupkan lagi nafas-nafas masa depan, mengumpulkan kembali sisa-sisa bangunan, dan mengaduk kembali mana yang bisa dipakai, mana yang harus dibuang, sembari membawa bahan-bahan baru yang mengokohkan bangunan rumah bangsa ini.

Dulu rumah bangsa ini runtuh karena dikuasai oleh hantu-hantu politik, hantu-hantu koruptor, hantu-hantu mafioso. Hantu itu beranak pinak, sampai menghuni seluruh sudut rumah bangsa, dan berjuta-juta penghuni rumah itu mengikuti kegelapan demi kegelapan hantu itu. Maka, ketika seorang Kiai menyalakan lilin dan menyiramkan cahaya, hantu-hantu mulai gentayangan kembali mencari celah-celah untuk mematikan lampu-lampu dan lilin-lilin itu. Kiai itu terjengah bukan main, setiap kali ia menyalakan lampu dan lilin, ada badai meniupnya, ada nafas-nafas malam yang kotor menyebulnya. Lalu sekuat tenaga ia kobarkan cahaya, tetapi badai kegelapan juga sangat berbahaya, bahkan mereka bagai siluman saling mengoyak, saling berebut untuk meniup cahaya-cahaya itu.

Istana yang dulu dihuni oleh hantu, dipenuhi oleh siluman negerinya, mulai sedikit bercahaya. Tetapi sayang sekali, cahayanya tidak sampai menembus di Gedung Rakyat yang gelap gulita, di wilayah Senayan sana. Sebab pesta kegelapan tak juga berakhir, sedangkan gedung itu adalah milik rakyat yang merindukan cahaya-cahaya masa depan.

Tak bisa dihindari akhirnya, sebuah pertempuran dahsyat antara cahaya dan kegelapan, antara benderang hati dan gelapnya nafsu, antara amanah-amanah yang harus dipikul dengan ambisi-ambisi yang ingin merebutnya, antara ruang-ruang peradaban melawan lorong-lorong mengerikan, antara mereka yang membawa kilat cakrawala dengan kemunafikan-kemunafikan yang menutup mata hatinya, menyumpal telinga jiwanya, membungkam lisan kebenarannya.

Tiba-tiba jarum jam sejarah berputar cepat memasuki empat belas abad silam. Ketika Nabi dengan para sahabatnya bertempur melawan angkara murka kafir-kafir Quraisy di lembah dan bukit-bukit Uhud. Kemenangan hampir-hampir di tangan, tiba-tiba kemunafikan menyelimuti sejumlah pasukannya, lalu mereka tersungku dalam perebutan jarahan perang, dan akhirnya mereka raih kekalahan.

Perang Uhud adalah kemenangan pasukan kegelapan, pasukan kemunafikan, pasukan kefasikan, pasukan yang memberhalakan duniawi, pasukan-pasukan berhala. Perang Uhud adalah kemenangan syetan dan Iblis, kemanangan asap hitam yang menyesakkan seluruh dada penghuni bumi, kemenangan siluman dengan sejuta topeng politiknya. Itulah hebatnya kafir-kafir, ketika ia terdesak dalam kekalahannya, tiba-tiba ia melemparkan umpan agar segera dijarah oleh hipokrit-hipokrit, sampai mereka lupa diri, dan setelah itu dihancurkan.

Saya memasuki kembali dunia normal saat ini. Di negeri ini, di alam nyata ini. Saya melihat melihat harapan ketika memangkan sebuah pertempuran melalui komitmen moral di padang pertempuran Badar Nusantara, dimana kekuatan minoritas kebenaran hendak mengalahkan mayoritas kemungkaran. Tak disangka, dalam membawa pasukan bangsa ini, kita harus melewati apa yang disebut Perang Uhud Nusantara. Di bukit dan lembah-lembah Uhud Nusantara, sesungguhnya strategi sudah dicanangkan, kemenangan sudah di tangan, tetapi tiba-tiba kemunafikan mengoyak-ngoyak kita semua. Konspirasi nafsu kita telah mengalahkan dan meniup cahaya kebenaran.

Sebuah bahaya besar mengguncang dari dalam tubuh bangsa ini, ketika kapal besar bangsa ini menyeberangi bahtera menuju benua impian, dan siap melawan bajak-bajak laut yang bertopeng mengerikan, tiba-tiba dari dalam kapal muncul pemberontakan yang disulut oleh segelintir manusia yang tidak menginginkan sang nakhoda dan wakil nakhoda bersatu menuju benua itu. Pertempuran melawan bajak-bajak laut itu tengah berkecamuk, dan kemenangan demi kemenangan diraihnya, tiba-tiba di saat hendak lari dari samudera kebangsaan, bajak laut itu melempar pundi-pundi agar diperebutkan para penunggang kapal besar bangsa ini.

Maka, bisa dibayangkan, betapa riuh rendahnya suara berebut dalam kapal besar itu. Melihat kenyataan seperti itu, bajak-bajak laut menyerang kembali, dan merobek kapal besar itu. Gemrincing pertempuran semakin seru, dan sungguh, kapal besar itu mulai tergenang gelombang samudera, pelan-pelan mulai tenggelam.

Para bajak laut dan kaum hipokrit itu mulai merayakan kemenangannya. Mereka berpesta, bahwa pasukan-pasukan kebenaran telah kalah, dan mereka angkat wakil Nakhoda itu menjadi pemimpin barunya, dengan kapal baru, dimana seluruh teknologi kapal itu sudah dikuasai para pembajak itu. Sehingga nakhoda baru itu hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan mereka.

Nakhoda dan seluruh bangsa yang masih mengikutinya, mulai ditenggelamkan oleh koyakan gelombang demi gelombang. Gelombang yang digerakkan oleh badai kejahatan. Tiba-tiba Lautan Putih muncul di permukaan, menarik kapal besar yang hendak tenggelam itu. Dan kapal itu pun bersandar pada pulau kebenaran di dalam samudera. Pulau itu adalah pulau Khidhir, dimana ada bangunan masjid yang dibangun dengan mutiara-mutiara hikmah dan pengetahuan, menaranya menjulang sampai ke Baitul Ma’mur sana. Betapa indah dan eloknya bangunan masjid itu, betapa agung dan megahnya ruang-ruang besar di dalamnya. Di luar bangunan masjid Khidhir ada bangunan-bangunan peradaban, bangunan Kota Ilahi yang dihuni oleh para Sufi. Nakhoda itu bersandar di sana, dan seluruh bangsa yang telah dibersihkan dari kemunafikannya.

Sementara para bajak laut dan kaum munafiq, menganggapnya, bahwa Nakhoda dengan kapal besarnya telah ditelan samudera, menjadi santapan hiu ganas, menjadi bangkai yang tak akan pernah hidup lagi.

Lebih baik mereka menyangka demikian. Biarkanlah, lebih baik mereka terus berpesta. Lebih baik mereka terus membagi-bagi tugas kemenangan yang diraihnya. Lebih baik mereka terus melaju dengan kapal hipokrianya. Lebih baik mereka terus melajukan kapalnya menuju sebuah benua, bukan benua masa depan, tetapi benua masa lalu tanpa hatinurani. Benua penyesalan.

Sebuah benua yang dituju oleh nakhoda itu, sesungguhnya bukanlah benua impian Dan benar ketika warna merah adalah merah senja yang jingga, bertepatan ketika kapal itu sampai di dekat benua. Gerbangnya adalah tengkorak-tengkorak manusia, sungainya adalah keringat rakyat, minumnya adalah darah, makanan-makanannya adalah aspal jalan raya dan hutan-hutan kayu yang dulu pernah rimbun penuh anugerah, pestanya adalah intrik-intrik politik, kata-katanya adalah kotoran, bangunan-bangunannya adalah hasil perampokan, menara-menara yang menjulang hanya sampai pada mendung hitam yang menggantung di cakrawala. Bahkan matahari pun tak pernah menembuskan cahayanya. Mengerikan.

Apa pun pesta yang sedang diselenggarakan itu, apa pun foya-foya kegembiraan yang disebar-sebar itu, apa pun bendera-bendera yang dikibarkan itu, masa lalu hanyalah sebuah penyesalan. Kita tidak ingin mengecewakan bangsa ini, dengan trauma-trauma, dengan darah dan kekerasan, dengan intrik, korupsi, kolusi, nepotisme dan segala hal yang terus menerus berselingkuh di balik celah-celah rumah bangsa.

Ayo! Kita berangkat! Menuju benua impian kita, menuju demokrasi yang sesungguhnya, menuju cahaya kebenaran yang dinyalakan oleh kalbu-kalbu kita. Jangan takut dan jangan gelisah, karena kekasih-kekasih Tuhan itu tidak pernah takut dan tidak pernah gelisah. Kita akan menaiki Kapal Jiwa bersama Allah, sebab, Allah menyertai kita.

Saya merekam seluruh peristiwa itu. L;alu saya tulis dengan tinta Lautan Khidhir dan gerak-gerik pena kefanaan jemari kehambaan. Saya tulis di atas kertas dari Cahaya Lauhul Mahfudz, agar kelak dibaca dan didengar oleh mereka yang sedang menyaksikan peradilan sejarah bangsa ini, siapa sesungguhnya yang benar, siapa sesungguhnya yang merekayasa, siapa sesungguhnya yang menjadi alat-alat, siapa sesungguhnya yang berselingkuh dalam kemunafikan, siapa sesungguhnya lawan yang sesungguhnya.

Saya mencoba menahan keharuan yang mengembang di atas kelopak mata. Tetapi dada telah basah oleh airmata. Terkadang yang tampak di depan mata saya adalah Sayyidina Al-Husein yang dikhianati dan dizalimi, terkadang yang tampak adalah pemuka Syuhada’ Sayyidina Hamzah yang jadi korban kemunafikan di lembah Uhud. Kadang yang tampak adalah senyum Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang miskin, kadang yang tampak adalah kegagahan Sholahuddin Al-Ayyubi. Kadang yang tampak adalah peristiwa kekalahan, lalu yang mengembang dari putik melati adalah aroma moral sejati seorang negarawan. Kadang yang tampak adalah Sayyidina Ali yang ditikam oleh intrik kemunafikan, kadang yang tampak adalah keelokan Yusuf yang dirobek bajunya dari belakang oleh nafsu Zulaikha.

Mungkin saja membuat anda muak, ketika nafsu anda bergerak membuka lembar demi lembar kebenaran. Mungkin saja jantung anda tertusuk, ketika darah hitam duniawi membisul dalam segumpal jantung anda. Mungkin saja bibir anda menyungging ke arah sudut paling sinis, ketika ambisi dan keangkuhan anda yang membaca. Bahkan tulisan ini menjadi sesuatu yang sangat menakutkan dan mengusir nurani anda, ketika anda membaca dengan kacamata kemunafikan.

Bacalah dengan mata hati dan kalbu kehambaan: Jika tulisan ini terasa pahit, biarlah jadi penyembuh duka anda. Jika terasa manis, semoga jadi penghangat kebekuan anda. Jika terasa asam, semoga pengejut kealpaan hati anda. Jika terasa pedas, jadikanlah sambal hidangan makanan jiwa anda. Jika terasa asin, itulah memang sari lautan yang mentralisir kebingunan anda. Selebihnya, Wallahu A’lam bish-Shawab.
Eli Jane

Menjadi Ibu yang Penuh Cinta Kasih

Elis Sumiati
Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi No.7/XVII November 2005/1426 H


Suatu pagi, ketika sedang membersihkan halaman. Saya melihat seorang anak berusia 3 tahun asyik bermain air sehingga pakaiannya basah kuyub. Tiba-tiba ibunya datang memarahi anak tersebut dengan kata-kata yang kasar, lalu menjewernya. Kontan si anak menangis menjerit-jerit. Saya kaget dan kecewa dengan tindakan kasar si ibu pada si kecil.

“Kasihan…” Hanya itu yang bisa saya ungkapkan. Kasihan pada si kecil menerima perlakuan kasar tanpa mengerti kesalahannya, karena penalarannya yang masih terbatas. Tapi saya kasihan juga pada si ibu yang melakukan itu mungkin karena ketidaktahuan cara mendidik anak. Atau itu merupakan suatu ungkapan kekesalan karena beratnya beban seorang ibu rumah tangga dan tuntutan ekonomi yang semakin berat, sehingga anak menjadi sasarannya.

Kejadian ini hanya sebuah gambaran kecil dan ringan dari kekerasan-kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya yang sering terdengar saat ini. Saya merasa miris, sedih dan bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi. Bukankah segalak-galaknya macan, tidak akan memakan anaknya sendiri. Namun, justru sekarang ada orangtua yang menjual bahkan membunuh anaknya sendiri hanya karena alasan ekonomi. Mungkin karena memang sekarang macannya sudah terlalu lapar, sehingga anak sendiripun dimakannya.

Padahal kalau kita simak QS Al-An’aam 151, Allah berfirman, “…dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rejeki kepadamu dan kepada mereka…” Betapa Allah telah menjamin rejeki atas orangtua yang merawat anaknya dan tiap-tiap anak yang lahir.

Memang kekerasan pada anak kerap kali terjadi karena faktor ekonomi dan kurangnya ilmu yang dimiliki oleh orangtua. Oleh sebab itu, kejadian semacam ini tidak perlu terjadi kalau setiap orangtua memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, memiliki iman yang kuat. Dengan keimanan yang kuat orangtua tidak akan merasa resal soal kelanjutan hidup diri dan ank-anaknya, karena Allah-lah yang mengatur segalanya. Dan Allah adalah sebaik-baiknya pengatur.

Kedua, orangtua harus banyak belajar cara mendidik anak. Menurut satu tulisan di Majalah Ummi ini (edisi 3/XVII tahun 2005), seorang ibu harus memiliki kompetensi yang kira-kira sama dengan seorang pendidik profesional. Yang dengan kemampuannya itu sang ibu memiliki ilmu sekaligus cinta kasih dalam merawat dan mendidik anak-anaknya.

Ketiga, mengembalikan peran yang sebagai pencari nafkah utama. Dengan demikian ibu bisa fokus merawat dan mendidik anak-anak, karena kebutuhan ekonomi sudah dipenuhi sang ayah.

Walaupun pada kenyataannya sangat sulit untuk dilakukan. Namun dengan kesabaran insya Allah para orangtua akan mampu mengemban amanah Allah dengan sebaik-baiknya, tanpa kemarahan dan tanpa kekerasan.
Eli Jane

Bekali Anak Hadapi Pergaulan

Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi No. 7/XVII November 2005/1426 H

Hubungan yang hangat antara orangtua dan anak menggambarkan lancarnya komunikasi antara orangtua dan anak. Tanpa dimintapun anak akan mengungkapkan seluruh isi hati, aneka masalah kepada orangtuanya. Mereka selalu bisa berlari kepada orangtua, yang juga akan selalu siap di sisi anaknya. Dengan hubungan semacam in, fungsi kontrol orangtua bisa berjalan dengan peran aktif si anak sendiri.

Pengenalan resolusi konflik

Resolusi konflik adalah upaya memecahkan konflik. Konflik pasti terjadi dalam hubungan sesama manusia dalam berbagai tingkatannya. Ketika melepas anak bergaul, tentunya dengan manusia lainnya, yaitu teman-temannya, potensi konflik pasti ada. Tidak jarang anak-anak menyelesaikan konflik antara mereka dengan cara kekerasan. Tidak heran bila kemudian tawuran pelajar jadi begitu lazim terjadi, karena yang mereka tahu tentang pemecahan konflik adalah dengan kekerasan. Maka pembekalan resolusi konflik ini sangat penting untuk anak-anak.

Resolusi konflik yang palig baik dilakukan anak-anak adalah pemecahan masalah dengan cinta. Resolusi semacam ini melahirkan sifat empati. Pada anak. Misalnya, ketika anak-anak berebut mainan, ajaklah mereka untuk menempatkan diri pada posisi temannya. “Coba deh bayangin kalau kamu mau main mobil-mobilan, tapi temanmu tidak mau memberikan bagaimana perasaanmu?”

Memang tidak semua anak tidak langsung mengerti dan bisa mengikuti pemecahan masalah macam ini. Namun, kalau tidak dilatih, anak-anak tidak akan tahu dan menggunakan resolusi konflik macam ini dalam lingkungan pergaulannya.

Informasi yang benar

Bayangkan bila kita dilepas di suatu tempat tanpa informasi apapun. Kalaupun ada informasi ternyata keliru. Apa yang terjadi? Kita akan tersesat tidak tahu jalan pulang. Demikian pula dengan anak-anak yang mau tidak mau terjun kepergaulan, tapi tidak punya informasi yang benar tentang dunianya yang semakin luas itu. Maka orangtua sangat perlu membekali anak-anak dengan berbagai informasi yang benar tentang dunia mereka.

Jangan hanya membeberkan hal-hal yang baik-baik saja, sebaiknya segala hal yang burukpun perlu diinformasikan pada mereka. Khawatirnya, bila sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, karena mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka jadi tidak siap mengahadapinya. Misalnya, kurangnya pengetahuan akan bahaya narkoba, sifat iri dengki atau kejahatan yang nyata.Tidak sekedar informasi, ajari mereka bagaimana menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada mereka. Misalnya, ajari mereka cara menolak bila ada teman yang menawarinya narkoba.

Etika pergaulan; Empati

Kenalkan anak pada berbagai contoh masyarakat yang mungkin mereka temui dalam pergaulan mereka. Jelaskan, bahwa tidak semua orang sejahtera dan serba kecukupan. Jangan hanya membawa anak jalan-jalAn ke mal atau tempat rekreasi lainnya. Ajaklah mereka ke tempat orang-orang yang tidak punya, ke perkampungan kumuh dan sebagainya. Biarkan mereka melihat bagaimana orang-orang ini melakukan aktivitas keseharian, melihat anak-anak lingkungan seperti ini bermain.

Dari kegiatan macam ini, akan timbul rasa empati. Sebenarnya sukses atau tidaknya pergaulan tergantung pada kemampuan seseorang untuk berempati. Semakin terasah rasa empatinya maka semakin mudah ia bergaul. Etika pergaulan yang paling utama adalahmemahami sudut pandang orang lain. Dengan empati ia dapat merasakan bagaimana rasanya bila mainannya direbut orang, ia bisa merasakan bagaimana rasanya diejek dan sebagainya. Ujung-ujungnya, ia tidak akan melakukan tindakan yang merugikan orang lain, karena tahu itu menyakitkan.

Ajaran Islam yang aplikatif

Tidak sekedar hafalan dan semacamnya, seharusnya Islam diupayakan untuk diterapkan dalam keseharian, sehingga anak-anak tahu esensi agama itu.. Lingkungan terdekatnya, seperti orangtua dan sekolah sudah semestinya mencontohkan aplikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, misalnya cara bangun tidur, makan, belajar, bertingkahlaku, sampai tidur lagi. Dengan cara itu ajaran Islam akan lebih tertanam didalam jiwanya sehingga otomatis menjadi filter bagi dirinya sendiri. Berdasarkan nilai Islam ia telah membuat standar moral. Ia bisa memutuskan sendiri apakah sesuatu itu benar atau tidak, syar’i atau tidak. Dengan demikian kemanapun ia pergi untuk bergaul, Islam menjadi filter terbaik baginya.

Kepercayaan

Penting bagi anak untuk merasa dirinya dipercaya menjalani kehidupannya sendiri. Kepercayaan membuat anak merasa dihargai. Kesadarannyapun akan muncul terhadap kepercayaan yang merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkannya pada orangtua.

Doa

Kekuatan doa yang begitu dahsyat adalah bekal, sekaligus pelindung utama bagi anak-anak kita. Ketulusan doa orangtua untuk keselamatan anaknya, insya Allah dikabulkan Allah yang maha mengawasi. Jadi, selama kita telah berupaya optimal menyiapkan anak-anak menuju pergaulannya, sekarang tinggal yakinkan diri bahwa Allah juga menjaga mereka. Hingga kemudian kita tidak akan cemas berlebihan.
Eli Jane

Akibat Anak Dilarang Bergaul

Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi No. 7/XVII November 2005/1426 H.

Bagi seorang anak berteman atau pergaulan merupakan bagian dari proses sosialisasi dan pengalaman berharga bagi kehidupannya di masa depan. Di dunianya yang yang mulai terbuka ini, ia bisa merasa lebih berarti dan mempunyai kehidupan yang menyenangkan. Tidak heran bila seringkali anak-anak lebih senang menghabiskan waktunya bermain bersama teman-temannya daripada berada di rumah.

Maka, aktivitas ibu atau pengasuh biasanya diiringi dengan mencari anak-anak yang tidak juga pulang walau hari telah menjelang sore. Atau memanggil-manggil pulang si anak yang sedang bermain di luar rumah, dan anakpun biasanya pura-pura tidak mendengar. Memang sebagaimana kebutuhan dasar lainnya, sosialisasi adalah suatu proses dan aktivitas yang mau tidak mau harus dijalani oleh setiap anak manusia.

Wajarlah bila manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, lantaran sejak lahir hingga ajalnya menjemput, manusia sangat membutuhkan lain dalam kehidupannya. Maka, sungguh hal yang tidak masuk akal, bila orangtua terlalu melarang anak untuk bergaul. Entah karena ketakutan pada akibat buruk pergaulan atau karena sebab lainnya.

Namun yang pasti, banyak akibat buruk bagi perkembangan anak lantaran sikap orangtua yang selalu melarang anaknya bergaul, diantaranya:

• Anak menjadi selalu takut pada orang asing
• Selalu diliputi ketakutan saat keluar rumah, karena merasa lingkungannya tidak aman. Itu kan yang sering dikatakan orangtuanya, tentang penculik yang selalu menculik anak yang keluar rumah, atau orang gila yang akan mengejar anak-anak yang keluar rumah.
• Perkembangan motoriknya bisa tidak seimbang, karena kurangnya gerakan yang ia lakukannya, yang sebenarnya dapat dipenuhi melalui beragam permainan yang dilakukannya bersama teman-temannya.
• Kemampuannya untuk berbagi jadi terbatas, sehingga ia jadi lebih senang main sendirian.
• Selalu kesulitan saat berkomunikasi dengan orang lain.
• Sulit bekerja dalam tim. Kerja tim butuh kerjasama. Bila anak tidak terbiasa bermain bersama teman-temannya, maka kemampuannya untuk bekerja dalam tim juga sangat terbatas, apalagi untuk menjadi pemimpin.
• Akibat jarang dan sulit berinteraksi, rasa empati anak menjadi tidak terasah. Ia tumbuh menjadi pribadi yang kurang memahami sudut pandang orang lain. Bisa jadi orang akan melihatnya sebagai pribadi yang tidak menyenangkan.
• Selalu ragu untuk mengemukakan pendapatnya. Ia khawatir terhadap reaksi yang akan diberikan orang terhadap apa yang dikemukakannya. Rasa percaya dirinya semakin terkikis.

Agar anak tidak tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri dan kurang pergaulan, maka cukup bijak bila orangtua memulai langkah pergaulan anak. Berikan kebebasan pada anak untuk berkembang bersama teman-temannya. Namun, ingat. Yang dimaksud disini adalah kebebasan dengan pendampingan dan kontrol dari orangtua. Bukan sebuah sikap permisif yang memberi seluas-luasnya kebebasan, karena sikap ini justru akan menimbulkan berbagai masalah baru
Eli Jane

Melepas Anak Bergaul

Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi No.7/XVII November 2005/1426 H

Banyak hal di luar rumah yang ditakutkan orangtua terjadi pada anak-anaknya, misalnya narkoba dan pergaulan bebas . Tentunya memang tidak berlebihan bila kita melihat dua hal ini bisa terjadi pada usia yang semakin belia. Bahkan siswa sekolah dasar sebagaimana dilansir berbagai media massa, mulai mengenal narkoba dalam segala bentuk. Dalam tingkat yang lebih ringan yaitu kebiasaan merokok, yang biasanya berawal dari ikut-ikutan atau karena hanya ingin diakui juga mulai dilakukan oleh anak usia sekolah dasar.

Kiriman surat cinta atau telepon dari teman si anak terkadang membuat orangtua salah tingkah dan bingung harus bertindak bagaimana. Bebagai kejadian inilah yang terkadang membuat orangtua menjadi over protective pada anak-anaknya. Tidak boleh keluar rumah atau tidak boleh bergaul terutama di luar sekolah, sebenarnya hal ini justru akan berdampak buruk bagi perkembangan pribadi anak.

Lingkungan menurut Ustadz Amang Syafruddin Dosen STAI al-Qudwah, sangat mempengaruhi perkembangan seorang anak, sabagimana kutipan hadist Rasulullah, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikan sabagi Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua orang tua, lanjutnya, merupakan perwakilan dari lingkungan terdekat yang sangat berpengaruh mengubah anak. Jadi ada lingkungan keluarganya, lingkungan masyarakatnya, termasuk berbagai kondisi dalam masyarakat itu. Bahkan kondisi negara sangat memepengaruhi pertumbuhan seorang anak.

Bicara soal bahaya dalam lingkungan pergaulan anak, Ery Retno Artini, psikologi anak, mengungkapkan bahwa tidak hanya di luar rumah, di dalam rumah pun selalu ada bahaya bagi anak. Ia mencontohkan, perbedaan cara mendidik antara orangtua dan anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama seperti kakek, nenek, paman, bibi, juga berbahay bagi perkembangan anak. Misalnya bapak dan ibu melarang, yang lainnya membolehkan. Akhirnya anak memilih yang enak-enak saja.

Bahaya lainnya dalam rumah adalah televisi, komputer plus fasilitas internet dan aneka game. Membiarkan anak mengkonsumsi acara TV atau mengakses internet adalah satu bentuk bahaya yang mungkin tidak disadari orangtua. Kondisi di luar sabagaimana dipahami para orangtua, diakui Ery memang menyimpan bahaya. Namun, bahaya atau tidaknya pergaulan tergantung pada filter yang dimiliki si anak. “Bahaya atau tidak bahaya itu tergantung pada bagaimana anak menanggapinya. Misalnya, ketika orang memberinya narkoba, tapi ia menolak. Narkoba memang berbahaya tapi ia bisa mengatasinya,“ ujar Ery.

Nah, filter si anak inilah yang merupakan bentukan dari lingkungan utama dan pertamanya yaitu orangtuanya. Menurut Ery, kalau orang tua sudah mempersiapkan anak sedemikianrupa sehingga mempunyai filter yang sangat baik, bahaya apapun dilingkungannya yang lebih luas tidak akan bermasalah baginya.

Ustadz Amang menambahkan, bahaya di luar sebenarnya justru diakibatkan kesalahan orangtua atau lingkungan terdekat lainnya dalam mengantarkan anaknya ke dunia nyata. “Ada kondisi lingkungan yang integrated. Kita hanya kuat mendidik anak di satu bidang saja, misalnya ibadah saja sementara muamalah kurang. Atau sebaliknya, muamalah kuat, tapi ibadah kurang,“ paparnya.

Kekuranglengkapan persiapan ditambah lagi informasi yang keliru tentang kondisi lingkungan yang sebenarnya, menempatkan anak dalam posisi yang berbahaya dalam pergaulannya. “Sehingga pada saat temannya mengajak kepada perbuatan negatif, dia tidak mengerti bahwa itu ajakan yang negatif. Wawasan yang dimilikinya tidak cukup,“ jelasnya.

Imunitas atau sterilitas

Menurut Ery, kekhawatiran saat melepas anak menuju pergaulan yang lebih luas didasarkan pemikiran orangtua yang menginginkan anaknya steril dai hal-hal yang buruk. Mereka berpikir kalau anaknya tidak bersinggungan dengan hal-hal yang buruk, sudah barang tentu anak-anaknya akan menjadi anak yang baik.

Padahal sterilisasi, misalnya mengurung anak di rumah sepulang sekolah, hal semacam ini tidak mungkin dilakukan bagi kehidupan seorang anak. “Sampai kapan sih kita bisa menjaga anak kita terus? Anak kita tambah gede, apa dia mau kita kerangkeng terus? Kan nggak bisa,“ jelasnya.

Oleh karena itu, persiapan untuk melepas anak bergauladalah hal yang harus dilakukan oleh setiap orang tua. Sterilitas semacam ini akan menempatkan anak pada posisi yang berbahaya dikemudian hari. “Nanti, ketika anak berhadapan dengan sesuatu yang tidak pernah ia tahu, maka bahayanya ada dua. Pertama, ia akan sangat takut dan langsung kembali ke rumah. Kedua, dia justru ikut terbawa, karena tidak ada kontrol dalam dirinya, “ ujar Ery

“Sterilitas itu tidak mungkin, yang mungkin adalah imunitas, “ tegas Ustadz Amang. Menurutnya, orangtua yang harus membentuk imunitas yaitu dengan membangun kekebalan dalam diri mereka, termasuk kekebalan dalam berpikir dan bersikap. Membangun imunitas lanjutnya, dapat dilakukan antara lain dengan memberikan informasi yang benar tentang lingkungan kepada anak-anak, yang baik maupun yang buruk. Anak-anak juga perlu dikenalkan dengan dunia luar.

Amang menambahkan pengenalan dan informasi yang benar ini akan membuat anak mengenal apa yang baik dan apa yang buruk dalam dalam pergaulannya. Jadi jika ia menemukan sesuatu yang negatif, maka secara otomatis ia akan meninggalkannya.

Ery memberikan contoh lebih lugas, kalau kita takut anak kita tenggelam ketika berenang, bukan berarti anak harus dijauhi dari air. “Ajarilah anak berenang dengan benar, agar ia tidak tenggelam, “ tegasnya.

Itulah hal yang paling bijak dilakukan orangtua pada anaknya. Jadi tidak mungkin mengurung anak di dalam rumah terus menerus, karenanya mulailah ajari dan bekali anak untuk menjalani pergaulannya.
Eli Jane

Diary Anakku

Cahaya Afiati
-satu episode dalam Menikmati Peran Ibu-


Setahun terakhir saya memiliki kegiatan baru, menulis. Bukan menulis artikel, bukan pula menulis cerita, tapi menulis diari. Diari yang ditulis pun bukan cuma milik sendiri, tapi milik buah hati saya yang usianya kini menjelang 15 bulan. Bukan hal istimewa memang. Karena saya tahu, ada banyak ibu lain yang melakukan hal yang sama.

Saya menemukan banyak hal menyenangkan dan bermanfaat dengan aktivitas itu. Saya senang menulis bagaimana tingkah polah anak pertama saya. Saat dia belajar tengkurap, belajar duduk, belajar berdiri, belajar berjalan dan proses belajar yang lain. Menulis saat-saat dia pertama kali mulai makan, juga saat pertama kali dia mulai berjalan. Saya juga senang menulis kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya, misalnya kebiasaannya menggigit bibir bawah di usia 6 bulan atau kebiasaannya menjambaki rambut belakangnya saat mengantuk. Tapi saya juga pernah menulis dengan perasaan sedih dan khawatir. Itu terjadi ketika saya menulis kejadian saat dia terjatuh dan kepalanya terbentur, saat dia demam, atau ketika dia mogok makan.

Awalnya saya berfikir, dengan menulis diari mudah-mudahan bisa menjadi kenangan yang indah bagi buah hati kelak. Bukan hanya baginya, bagi saya pun diari itu bisa menjadi sebuah kenangan yang indah. Ternyata manfaatnya bukan cuma itu. Diari bayi yang ditulis dengan baik bisa bermanfaat juga untuk mengetahui kesesuaian tumbuh kembangnya. Ini berarti, saya harus banyak mencari tahu, perkembangan rata-rata anak seusianya. Alhamdulillah, dalam banyak hal, perkembangannya bisa dikatakan sesuai dengan rata-rata anak seusianya.

Manfaat lain yang saya ketahui dari literatur, catatan yang baik bisa memudahkan orang tua melakukan penelusuran ke akar masalah jika si kecil mengalami suatu masalah. Jika dokter bertanya mengenai keadaan atau pengalaman yang telah dialami anak, orang tua bisa mengungkapkannya dibantu dengan catatan itu.

Bukan hanya itu. Rajin menulis diari berarti membutuhkan perhatian yang intens akan tumbuh kembang anak. Saya harus terlibat dan memberi perhatian pada sang buah hati sepanjang hari. Mulai dia bangun pagi hingga tidur malam. Mudah-mudahan intensitas keterlibatan dan perhatian ini bisa menjadi fondasi yang baik bagi hubungan yang lebih erat dengan anak saya.

Berdasarkan literatur pula saya ketahui, bahwa diari anak ternyata perlu memuat beberapa hal agar dapat memberi manfaat optimal. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tumbuh kembangnya perlu dicatat dengan baik. Misalnya berat badan dari bulan ke bulan (khususnya untuk bayi), panjang badan, gerakan-gerakan halus, gerakan-gerakan kasar, kemampuan bicara, juga kemampuan interaksi sosial si kecil. Saat-saat pertamanya melakukan sesuatu juga merupakan hal yang penting untuk dicatat. Selain itu, perlu pula mencatat kebiasaan-kebiasaan dan kejadian-kejadian yang tidak biasa dialami anak. Termasuk penting untuk dicatat adalah kelengkapan imunisasi buah hati.

Saya memang tidak selalu mampu menulis diari buah hati saya secara teratur dan mendetail. Meskipun begitu, saya berusaha mencatat apa-apa yang saya anggap penting dalam diari itu.

Saya belum tahu sampai kapan saya akan menulis diari buah hati saya. Mungkin sampai dia mulai mampu menulis sendiri pengalaman-pengalamannya. Saat dia mulai bertanya tentang keadaannya di masa kecil, akan saya tunjukkan diari itu padanya.

Menulis diari buah hati, bagi saya adalah salah satu cara menunjukkan kasih sayang saya padanya. Juga salah satu cara untuk menunjukkan betapa dia begitu berarti. Apalagi, diari itu saya tulis dengan sepenuh cinta dari hati.
Eli Jane

Tumbuh Kembangkan Jiwa Anak dalam Aura Surgawi

Anak dapat menjadi permata hati, tapi juga bisa menjadi musuh, maka bimbinglah anak untuk miliki karakter shalih, agar menjadi pembuka jalan surga. Menurut Ustadz Hilman Rosyad Syihab ahli syariah alumnus Islamic University of Madinah. Ada enam kewajiban orangtua terhadap anak antara lain:

Pertama, mengharapkan kehadiran anak dalam konteks normal, halal dan Islami. Artinya orangtua harus benar-benar menyiapkan diri, baik secara mentalitas, intelektual, fisik dan materi untuk menyambut kelahiran anak-anaknya.

Kedua, memberi nafkah dengan harta yang halal dan nafkah tersebut bermanfaat untuk perkembangan jiwa anak. Orangtua tidak boleh memberikan sesuatu kepada anak secara berlebihan, meskipun ia mampu.

Ketiga, mendidik secara Islami melalui contoh pembiasaan, penanaman nilai dan proporsional dalam memberikan hukuman dan hadiah.

Keempat, menunjukan kasih sayang dengan cara yang tepat.

Kelima, selalu mendoakan anak dengan doa yang baik.

Ikuti model Luqman (QS33;12-19)

• Ajari anak bersyukur kepada Allah SWT, karena hakikatnya syukur itu untuk diri sendiri.

• Ajari anak menjauhi syirik karena itu adalah kezaliman besar

• Ajari anak menghormati ibunya yang telah mengandung dengan susah payah, lemah dan bertambah-tambah selama 9 bulan.

• Ajari anak menghormati kedua orangtua, karena keridhaan Allah ada pada keridhaan orangtua.

• Ajari anak untuk menolak perintah orangtua yang salah dengan cara yang bijak.

• Ajari anak untuk mendirikan sholat dan berdakwah serta bersabar terhadap penderitaan di medan dakwah.

• Ajari anak untuk menjauhi sikap sombong, angkuh, meremehkan orang lain, memalingkan muka, memandang rendah orang lain, dan tidak mau bertegur sapa.

• Ajari anak sifat kesederhanaan, tampil dengan wajar tidak membuat resah orang lain, tidak menyebabkan orang lain sakit hati.

• Ajari anak melunakan suara dan pandai berkomunikasi, namun jangan banyak bicara yang tidak bermakna dan jangan jadi pembual.

Jauhilah sikap yang memandulkan jiwa anak

Untuk menjaga fitrah anak, jauhilah hal-hal yang dapat mengerdilkan jiwanya, misalnya:

1. Melarang anak mengekpressikan emosinya seperti protes, menangis, gembira, menyanggah dan lain-lain.

2. Melarang anak mempertanyakan keputusan orangtua.

3. Melarang anak bermain dengan anak dari keluarga yang mempunyai pandangan dan nilai berbeda.

4. Melarang anak berisik dan menolak gagasan anak

5. Terlalu ketat mengawasi dan mendeteksi kegiatan anak, dan terlalu menekan dan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas.

6. Terlalu intervensi dan memberikan saran spesifik dalam penyelesaian tugas anak.


Pengaruhi jiwa anak

Anak memiliki karakter emosi yang belum stabil, karena mereka masih dalam tahap pertumbuhan emosi. Oleh karena itu pengaruhi jiwa anak dengan cara:

• Jadilah sahabat dan teladan baginya, tumbuhkan rasa percaya diri pada anak dengan memperkuat kemauan anak, menumbuhkan kepercayaan sosial, kepercayaan ekonomi dan bisnis.

• Perhatikan kecenderungannya, angkatlah potensinya, dan perbaiki kelemahannya. Latih mereka dengan memberi tugas sesuai dengan usianya, bertahap dan tidak mencercanya ketika mereka salah.

• Dengarkan anak secara reflektif, hargai perasaannya dan tunjukan bahwa kita memahami perasaan anak, tampakan bahwa kita benar-benar menyimak apa yang dikatakannya, ulangi apa yang dia ucapkan, ekspresikan bahwa kita sedang memikirkan perasaannya, berikan respon positif dan berikan umpan balik dengan nasihat.

• Perbanyak kegiatan yang mengembangkan permainan, cerita dan buku-buku fiksi ilmiah, lukisan, hiasan, drama anak-anak seusianya, kegiatan ekstrakurikuler, membaca buku dan menyalurkan hobinya.

Jika orangtua mampu menghadirkan aura surgawi dalam proses pendidikan anak, yakinlah anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi berjiwa besar dan berkarakter insan kamil. Mereka tidak rentan terhadap pengaruh buruk lingkungan, bahkan mereka dapat menjadi generasi pendobrak kemaksiatan di muka bumi.
Eli Jane